“We Are Valentine” (All cast of sayap series)

Televisi ruang tengah rumah Ion menyala. Ion dan Wilga datang lagi ke Indonesia saat liburan semesternya. Mereka berempat berkumpul lagi, di sini. Di depan sebuah televisi layar datar sambil bercengkrama dengan pasangan masing-masing. Vino menekan-nekan remote TV sesekali untuk mengganti channel, tatapan matanya fokus ke arah televisi walau dia tahu kalau cowok di sebelahnya selalu menatapnya sejak tadi sambil tersenyum. Egi tak bosan-bosannya tersenyum, memperhatikan wajah cuek Vino yang sangat dia puja. Vino sesekali menoleh ke arahnya dan mendengus sambil mengisyaratkan Egi untuk menatap TV, bukan dirinya. Tapi Egi cuek dan menggeleng sambil tersenyum dan tak jemu menatap wajah Vino.

“Jangan ngelitain gue!” Vino protes, sesekali menutup wajah Egi dengan tangannya. Egi terkekeh dan menarik tangan Vino lalu mengecupnya sayang. Vino melotot kesal dan memukul kepala Egi dengan bantal sofa.

Sementara itu, Wilga dan Ion asyik dengan aktivitas mereka. Ion tidur di pangkuan Wilga sementara tangan Wilga mengelus dan menepuk-nepuk kepalanya. Tangan Ion asyik menekan-nekan layar touchscreen HPnya sambi berceloteh seperti biasanya.

“Angry bird… Hua.. Hua… Nih, rasain! Rasain!” mulut Ion berucap riang sambil sesekali tangannya menarik burung warna-warni untuk melompat ke arah kotak-kotak di seberang.

“Asyik, ya maennya sampe aku dicuekin?” Wilga pura-pura kesal. Ion mengalihkan tatapannya lalu memandang wajah Wilga yang sedang cemberut. Ion mengerjap imut, lalu dalam sekejap tangannya menarik tengkuk Wilga dan… CUP! Untuk pertama kalinya Ion mengecup bibir Wilga. Untuk pertama kalinya dia berani berbuat seperti itu! Wilga shock. Walau hanya beberapa detik bibir Ion menempel di bibirnya, namun kesadarannya serasa hilang. Ini pasti mimpi! Mimpi!

“Wilga nggak marah lagi, kan…?” Ion tersenyum lalu berganti duduk di pangkuannya dan menatapnya. Wilga menahan nafas sambil meneguk ludahnya kasar. Ion-nya sangat pemberani hari ini. Wilga mati-matian menahan sesuatu yang mulai terasa sesak di sana.

“Kamu.. Kamu kenapa hari ini jadi…” Wilga gugup. Ion memiringkan wajahnya sambil mengerucutkan bibirnya.

“Wilga nggak suka, ya…?” ekspresi Ion berubah jadi sedih. Wilga menggeleng kencang, lalu menarik tubuh Ion untuk semakin mendekatkan tubuh mereka.

“Ion kenapa hari ini beda, hum…? Apa Ion bikin salah?” Wilga tersenyum lembut sambil mengelus pipi Ion. Mati-matian dia menahan hasratnya untuk menyerang Ion. Dia sadar ada Egi dan Vino di sana. Ion menggeleng.

“Wilga lupa, ya.. Ntar lagi kan hari valentine, Wilga kan nggak suka coklat.. Jadi Ion nggak mau ngasih Wilga coklat. Wilga mau yang laen?” mata Ion mengerjapu lucu. Wilga bergidik ngeri. Ngeri karena gemas dan sesuatu yang membuatnya panas.

“Aku nggak butuh apa-apa, Sayang..! Aku cuma butuh kamu…” Wilga mengecup pipi Ion lembut, sementara Vino yang sejak tadi menguping pembicaraan mereka berdua langsung menoleh galak ke arah Wilga. Sifat posesifnya sebagai kakak muncul lagi. Egi menggenggam tangan Vino, seolah berkata abaikan saja mereka. Tapi Vino yang terlanjur gemas dengan perlakuan Wilga pada adik sepupunya balas meremas tangan Egi. Hal itu sukses membuat Egi tersenyum senang karena menganggap Vino menyambut genggaman tangannya.

“Ah, iya…! Kalau kak Vino maunya kasih hadiah apa buat kak Egi?” Ion menoleh ke arah Vino yang sedang menatap tajam ke arah mereka. Vino terlonjak, melirik Egi sekilas, melepaskan genggaman tangan Egi dan menggeleng kencang.

“Kakak nggak ikut acara gituan, Ion..” Vino menjawab judes. Egi menatapnya dengan raut sedih. Vino menghela nafas saat melihat ekspresi menggebu Ion berubah menjadi ekspresi kecewa.

“Padahal Ion pengen bikinin kak Egi cokelat. Ah, Ion punya ide…! Kak Vino, ayo ikut Ion bentar…!” Ion melompat dari pangkuan Wilga dan langsung menarik tangan Vino. Vino melongo dan hanya mengikuti arah tarikan Ion. Mereka sampai di kamar mereka dan Ion langsung mengunci pintunya.

“Ada apaan, sih Ion?” Vino bertanya kesal. Ion menatap Vino dengan tatapan merajuknya.

“Aku mau nanya sama kak Vino. Wilga kan nggak suka coklat, nih kak.. Trus pas valentine ntar gimana kalau Ion kasih dia kado yang laen aja, ya…! Menurut kakak gimana?” Ion bertanya cepat. Vino menghembuskan nafasnya kesal dan langsung melayangkan jitakannya ke kepala Ion.

“Jangan narik kakak cuma gara-gara pertanyaan ini, Ion..!”

“Aduh, sakit kak Vino…!” Ion mengusap-usap kepalanya. Vino balas melotot menatapnya.

“Pokoknya jangan tanya kakak kalau masalah itu!”

“Kakak nggak mau kasih hadiah buat kak Egi?”

“Ngapain? Dia siapa kakak?”

“Tapi…”

“Kasih sayang kan nggak harus ditunjukin pas hari valentine doang, Ion..! Masih ada hari lain, kenapa kamu harus ribet hari ginian, sih?”

“Tapi kan.. kan…”

“Kakak nggak mau ikutan, jadi kalau Ion mau kasih hadiah apalah itu, kakak nggak mau tahu!” Vino menggeleng tegas sementara Ion mengerucutkan bibirnya kesal. Namun sesaat dia tersenyum senang. Bukan hanya tersenyum, melainkan sudah tertawa senang sambil melompat riang dan memeluk Vino. Vino meronta dan protes dengan sikap Ion yang tiba-tiba.

“Ion punya ide bagus!!” dia tersenyum sambil menampakkan gigi kelinci dan lesung pipitnya lalu beranjak keluar kamar. Saat Wilga dan Egi menatapnya dengan pandangan ingin tahu, Ion sudah pergi ke luar rumah. Entah pergi kemana….

***

Ion mengerjap-ngerjapkan matanya, memandang gulungan benang berwarna-warni yang tersusun rapi di rak etalase toko benang. Bibirnya mengerucut imut, sesekali tangannya menggaruk belakang kepalanya dengan bingung. Tak heran kalau pengunjung toko itu mulai memperhatikannya. Ion memang menarik perhatian. Tidak hanya jaket yang terlalu besar di badannya itu yang jadi perhatian orang-orang, tapi juga wajahnya. Gigi gingsulnya, lesung pipinya, mata polosnya, tubuh mungilnya, hingga…

“Iya, dek.. Ada yang bisa dibantu?” tiba-tiba seorang cowok sudah menghampirinya. Ion menoleh dan memandang pegawai toko itu dengan tatapan malu. Malu karena dia masih bingung apa yang mau dia beli.

“Eng.. Ion mau beli benang rajut. Sekalian sama jarum rajutnya, juga sama jarum jahit…” akhirnya setelah lumayan lama berpikir sambil sesekali terkekeh dan menatap cowok penjaga toko itu, Ion memutuskan.

“Mau yang warna apa?”

“Eng… hitam sama putih, deh kak… Beli benang sulamnya sekalian yang warna abu-abu..” Ion mengangguk yakin. Hitam dan putih adalah warna favorit Wilga.

“Mau bikin prakarya, ya dek..? Kelas berapa?” pertanyaan cowok usia dua puluhan penjaga toko itu membuat Ion sontak cemberut seketika. Namun daripada menjawab pertanyaan cowok itu, Ion lebih memilih untuk sibuk dengan memperhatikan pernak-pernik di etalase yang lain. Saat benang, jarum rajut dan benang jahit itu sudah masuk dalam kantong belanjaannya, Ion segera pergi. Yosh, hari ini dia harus mulai mempersiapkan hadiah untuk Wilga. Hadiah apa itu?

Sebenarnya Ion pernah belajar membuat sebuah topi rajut saat pelajaran prakarya waktu masih SMP dulu. Dia mati-matian belajar, dan hasilnya juga lumayan bagus. Bahkan dia mendapat nilai tertinggi di kelasnya waktu itu. Topi rajut itu nantinya akan dia sulam dengan tulisan nama Wilga di atasnya. Dia terkikik geli saat berniat menambahkan gambar hati di sebelah namanya. Namun sayangnya dia ingat kalau itu pasti akan membuat Wilga malu. Wilga pasti akan memakainya kalau dia keluar malam, jadi mau tidak mau agar tidak terlihat norak Ion mengurungkan niatnya.

“Halo.. Gilang dimana?” Ion menekan-nekan HPnya dan menelpon seseorang di sana.

“Di kontrakan, Ion…” sebuah suara cewek menyahut di sana. Ion tersenyum lebar. Pokoknya dia harus merahasiakan rencananya ini dari Wilga agar jadi kejutan.

“Ion nginep sana ya malam ini…!”

“Eh…? Tumben banget! Kalau aku diomelin sama si Vino gimana?”

“Kak Vino biar Ion yang urus, deh! Gilang tinggal sediakan tempat tidur sama makanan aja buat Ion…”

“Bayar, ya..! Semalam lima puluh ribu…”

“Gilang matre!” Ion tertawa geli. Gurauan teman dekatnya sejak SD itu membuatnya rindu. Dia melangkah cepat, berlari ke arah tukang ojek dan menyebutkan sebuah alamat. Ion pergi ke kontrakan cewek bernama Gilang itu.

“Gilaaaaaannnnggg…..!” Ion merentangkan tangannya saat seorang cewek membuka pintu kontrakannya. Cewek itu menatap Ion sambil cengar-cengir, sementara bajunya berantakan dan rambutnya tergulung seperti biasanya. “Gilang belum mandi, ya…?” Ion masuk ke dalam kontrakan Gilang dan mulai mengobrak-abrik isi lemarinya.

“Mau ngerajut lagi? Buat siapa?” Gilang mengambil beberapa keripik di tangannya dan memasukkan keripik itu ke dalam mulutnya.

“Buat Wilga…”

“Cowok yang fotonya pernah kamu kirim via email itu, kan?”

“Iya, jadi.. kalau kak Vino telpon Gilang nanti tolong bilang ya kalau Ion butuh tempat buat ngerajut…” Ion menatap Gilang dengan pandangan memelas. Gilang angkat bahu lalu menepuk-nepuk kepala Ion.

“Semangat, deh..! Semoga jadi sebelum tanggal 14…”

Saat Gilang sudah kembali dengan aktivitasnya, Ion mulai bekerja dengan benang rajut di tangannya. Dia tersenyum lalu mulai sibuk dengan aktivitasnya. Berkali-kali Vino menelponnya, namun Gilang yang mengangkat telpon itu. Awalnya Vino protes, namun Gilang berhasil merayu Vino hingga keduanya asyik mengobrol berdua sambil tertawa kencang. Ion sesekali tersenyum saat mendengar celoteh Gilang dan Vino di telepon. Terkadang dia harus meringis karena tangannya tertusuk jarum jahit berkali-kali. Begitulah, Ion menginap di kontrakan Gilang malam itu.

***

Ion pulang pagi harinya dari kontrakan Gilang. Wilga langsung muncul di balik pintu saat mendengar suara Ion di luar rumah. Wajah Wilga kusut, dan sepertinya dia tidak tidur semalaman. Ion sudah berpesan agar Vino menyampaikan pesannya kalau dia menginap di kontrakan teman. Ah, sepertinya Vino sengaja tidak memberitahukan pesan itu pada Wilga!

“Ion darimana? Kenapa baru pulang…?” suara Wilga terdengar serak. Wilga menatap Ion cemas. Ion menggeleng sambil tersenyum.

“Ion ketemu sama temen lama, jadinya ngobrol dulu. Karena udah malam, akhirnya Ion sengaja nginap di tempat dia…”

“Kenapa Ion nggak nelpon? Aku kan bisa jemput…”

“Tapi Ion pengen nginap, Wilga…”

“Dia temen Ion? Temen lama?”

“Iya, temen deket pas SD. Temen deket Ion kalau misalnya Ion lagi digangguin sama cowok-cowok jahil…”

“Kenalin aku sama dia…”

Ion terdiam. Kalau Wilga kenal Gilang, itu artinya Wilga akan tahu kontrakannya, lalu Wilga akan mengetahui rencananya. Tidak, tidak… kalau rencana ini tidak berhasil bagaimana? Tidak!

“Dia sibuk, Wilga…” Ion beralasan. Memang benar, Gilang memang sibuk. Dia sibuk dengan berbagai urusannya di dunia maya dan juga hobi isengnya.

“Ion bohongin Wilga..?” Wilga menatap curiga. Ion mengalihkan tatapannya dan akhirnya melarikan diri dari interogasi Wilga.

Begitulah… Ion mulai gemar keluar rumah untuk pergi ke kontrakan Gilang. Semua barang-barangnya dia letakkan di sana. Selain itu, Gilang juga jarang pulang ke kontrakannya. Dia lebih sering menginap di markas organisasinya di kampus. Jadi kontrakan itu kini sepenuhnya berada di tangan Ion. Wilga mulai curiga karena Ion selalu melarikan diri darinya. Ada yang aneh dengan Ion belakangan ini. Jari-jarinya diplester, sering pulang larut malam, lingkaran mata mulai menghitam dan terlihat jelas, dan keanehan lainnya.

Sementara itu Vino yang tahu segala hal yang disembunyikan Ion dari Wilga hanya cuek-cuek saja. Dia masih menertawakan kebodohan Ion yang mati-matian berusaha untuk memberikan hadiah untuk Wilga. Vino tidak peduli dengan valentine atau apalah itu! Dia hanya menggeleng heran saat melihat jari-jari Ion yang diplester seperti itu demi membuat sesuatu untuk Wilga. Anehnya, tiba-tiba Vino merasa terusik.

“Kok akhir-akhir ini Ion sering pergi pagi dan pulang malam? Emangnya Ion kerja?” suara Egi terdengar di belakangnya. Vino menoleh dan angkat bahu. Saat melihat Egi sudah berpakaian rapi plus jaket kesayangannya, Vino menatap Egi penasaran.

“Mau kemana?”

“Mau beli senar gitar bentar… Kamu nggak titip apa-apa?” Egi tersenyum sambil menawarkan. Vino menggeleng sekilas, namun saat melihat jaket yang sering dipakai Egi yang sudah kusam itu, Vino mulai terganggu.

“Bisa nggak loe ganti jaket? Loe nggak punya jaket laen, apa? Kan punya banyak, tuh…”

Egi menunduk lalu menatap jaketnya sekilas. Dia tersenyum lembut lalu menggeleng perlahan.

“Inget, nggak kalau jaket ini sangat berharga buat aku?”

“Gue nggak lihat filosofi di balik itu, jadi gue masih belum paham kenapa jaket yang udah kusam itu berharga buat loe…”

“Pertama kalinya aku ketemu kamu di kamar asrama, aku pake jaket ini. Aku keluar sama kamu waktu itu juga pake jaket ini. Pas ke makam waktu itu juga…. Ini jaket kesayanganku, terlalu berharga untuk jadi pengingatku kalau kita pernah punya kenangan bareng…” jawaban Egi membuat hati Vino mencelos seketika. Ada rasa haru yang luar biasa saat mendengar Egi begitu mengingat setiap momen yang mereka jalani berdua, sementara Vino tidak terlalu peduli akan Egi. Egi tersenyum lagi, lalu perlahan mengecup pipi Vino sekilas lalu berkata dengan lembut. “Aku berangkat dulu, ya…”

Kini tinggal Vino yang masih terdiam di tempatnya. Namun kesadarannya kembali. Dia berlari ke kamarnya, mengambil dompetnya, lalu mengambil motornya. Dia harus memberikan jaket baru untuk Egi, karena kalau terlalu lama dipakai jaket itu akan rusak dan kenangan bersama Vino juga akan hilang. Tidak, tidak boleh! Vino tersenyum merutuki kekonyolannya sendiri. Yang jelas, hanya satu yang terpikir oleh Vino saat ini : Membelikan Egi jaket baru dan memuseumkan jaket kusamnya!

***

14 Februari.

Seminggu belakangan ini baik Ion dan Vino sama-sama menyibukkan dirinya. Ion sibuk dengan topi rajutnya, sedangkan Vino sibuk dengan kata-kata apa yang harus dia ucapkan pada Egi. Akhirnya saat tanggal 14 Februari tiba, Ion dan Vino memberi mereka kejutan di pagi hari. Ion dan Vino sengaja bangun lebih awal dan menghilang. Akhirnya pagi itu Wilga dan Egi panik saat mendapati cowok kesayangan mereka menghilang tanpa jejak. Mereka sibuk mencari, menelpon, namun tak ada respon. Hingga akhirnya Ion muncul lalu melompat ke punggung Wilga. Di belakangnya ada Vino yang membawa sebuah kue tart. Kue itu Vino buat sendiri, tentu saja bukan kue cokelat karena Wilga tidak suka cokelat.

Wilga kaget namun balas memeluk Ion, sementara Egi masih melongo melihat Vino juga tergabung dalam kejutan ini. Dia tidak menyangka kalau Vino yang super cuek ini mau bekerja sama menyusun kejutan kecil namun indah ini.

“Selama ini Ion kemana aja…? Kangen…” Wilga memeluk Ion dan langsung menggendongnya. Ion memekik, lalu mengalungkan tangannya.

“Ion buat ini…” Ion mengulurkan sebuah bungkusan kado pada Wilga. Wilga tersenyum haru.

“Ini maen drama-dramaan, nih?” suara jutek Vino membuyarkan acara mesra Ion dan Wilga itu. Mereka akhirnya duduk di meja makan dengan kue tart blueberry di tengah-tengah mereka.

“Kak Egi.. kak Egi…! Yang bikin kue itu sebenernya kak Vino, lho..! Kak Vino kan tahu kalau kak Egi suka blueberry, makanya kak Vino keukeh bikinnya buat kak Egi…” suara cablak Ion sukses membuat Vino melotot kesal dan malu.

“Ini.. ini beneran kamu yang bikin…?” Egi menatap Vino heran sekaligus senang.

“Pasti rasanya nggak enak, udah deh kita makan yang laen aja..! Ini nggak usah dimakan…” begitu tangan Vino meraih kue tart blueberry di depannya, tangan Egi reflek menahannya.

“Ini hari paling indah yang pernah aku alami…” suara Egi bergetar, apalagi saat butiran air mata sudah mengalir di kedua matanya. Egi langsung memeluk erat Vino, sementara Wilga dan Ion sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing sambil sesekali menatap mereka berdua sambil tersenyum lucu.

“Awalnya aku curiga kamu selingkuh, lho..!” Wilga merajuk. “Kamu nyembunyiin orang itu dari aku. Siapa sih dia?” Wilga bertanya kesal, namun bibirnya tersenyum saat memakai topi rajut pemberian Ion.

“Gilang? Kan Ion udah bilang, Wilga.. Dia itu temen SD dulu. Kak Vino juga kenal dia, kok… Dia cewek, sih walau namanya Gilang..”

“Dia cewek?”

“Iya, bahkan kemaren kita bertiga belanja bareng buat beli bahan-bahan kue…”

“Makasih, ya Sayang…! Aku tahu kamu bikin ini sendiri, kan? Aku suka banget! Ini bakalan jadi barang kesayanganku mulai sekarang…” Wilga mengecup singkat kening Ion. Ion mengangguk cepat dan menunjukkan jari-jarinya yang sudah tidak diplester. “Masih sakit, ya…? Sini.. Sini…” Wilga meraih jari-jari Ion dan mengecupnya perlahan. Ion terkekeh geli. Bibir Wilga juga mengecup lembut bibir Ion. Wilga masih berencana memperdalam ciumannya kalau saja dia tak mendengar sesuatu…

“Ini buat loe…” suara Vino perlahan terdengar. Ion dan Wilga terdiam seketika. Wilga menatap Ion dengan pandangan ingin tahu, namun Ion hanya tersenyum sambil mengangkat bahu. Kini Ion dan Wilga menatap Vino dan Egi yang masih dalam suasana canggung itu. Vino mengeluarkan sebuah bungkusan dan menyerahkannya pada Egi. Egi menerima hadiah itu dengan wajah penasaran. “Sebenernya gue nggak pengen ngerayain hari ginian, tapi karena gue lihat sesuatu yang bikin gue risih akhirnya mau nggak mau gue pas-in aja momennya sama kasih ini..”

Mata Egi terpaku pada sebuah jaket di tangannya. Tidak, kini dalam dekapannya. Jaket dari orang yang sangat dia cintai. Apalagi saat sebuah kertas dalam saku jaket itu. Sebuah kertas yang bertuliskan : Ini jaket baru! Ganti jaket jadul dan kusam itu sama ini! Museumkan biar awet tuh jaket..!

Sebuah tulisan yang kasar, namun entah mengapa ada rasa sayang dalam tulisan itu. Egi tersenyum lalu memeluk Vino erat. Bukan hanya memeluk, karena sedetik kemudian Egi sudah mengecup kening, mata, pipi, rahang, hidung dan bibir Vino berkali-kali. Sementara itu, dua pasang mata milih Wilga dan Ion menatap mereka dengan ekspresi bengong. Bahkan Wilga sudah menutup mata Ion, melarangnya melihat adegan itu walau Wilga pernah melakukannya pada Ion.

“Kak Vino, kan yang romantis-romantisan itu harusnya Ion sama Wilgaaaaa…! Kenapa kalian yang pamer…?” Ion protes sambil menjerit kesal. Wilga yang sedang menutup matanya akhirnya ganti menutup mulutnya. Egi dan Vino reflek melepaskan diri. Egi menghentikan kecupan bertubi-tubinya, sementara wajah Vino sudah memerah. Ion mau tak mau terkikik geli karena berhasil menggoda kakak sepupu cueknya yang satu itu.

Satu tart blueberry di meja, dua pasang kekasih dengan cinta di antara mereka. Inilah arti kasih sayang! That is their valentine day!

END – the real ending

Advertisements

Dua Pasang Sayap (Sequel serial “Sayap” all cast)

Sebuah apartemen di London terlihat sibuk hari ini. Penghuninya sedang melakukan kegiatan rutin membersihkan kamar di akhir pekan. Kalau di Indonesia, biasanya dia membersihkannya bersama anggota keluarganya. Namun kali ini dia harus membersihkannya sendiri. Cowok mungil manis itu tersenyum sambil bernyanyi, hingga dia dikejutkan oleh suara seseorang masuk ke dalam apartemennya. Tentu saja dia tahu siapa orang yang bertamu itu.

“Lama banget bersih-bersihnya…” cowok yang baru datang itu, Wilga mendekat ke arahnya sambil mengambil sapu yang tergeletak di samping pintu dapur. Ion, cowok mungil manis itu masih sibuk dengan kegiatan mengelap meja makannya sambil bernyanyi dengan headset di telinganya. Dia bernyanyi dengan ceria, sampai kehadiran Wilga dia abaikan. “Woi… lama banget bersih-bersihnya…!” Wilga gemas dan melepas salah satu headset yang terpasang di telinga Ion.

“Eh, ada Wilga…! Aku lagi bersih-bersih biar kinclong, karena nanti aku mau ninggalin apartemen dalam waktu yang lama. Wilga udah tahu, belum… aku dapat libur, makanya aku mau ngunjungin orangtuaku di Indonesia. Aku mau pulang kampung, yes!” Ion menari-nari gembira, sementara Wilga beku di tempatnya.

“Kapan? Kenapa kamu nggak bilang?” nada suara Wilga meninggi. Ion tersentak dari tariannya dan langsung mengerucutkan bibirnya.

“Soalnya mendadak. Baru aja Bunda telpon, katanya kalau aku mau pulang ntar mau dibikinin sayur lodeh kesukaanku. Jadi aku pulang, Wilga…!”

“Kenapa kamu anggap itu enteng, sih…?!! Kenapa harus sekarang…? Kenapa kamu pulang cuma buat makanan?!!” Wilga berteriak kencang. Ion menatap Wilga dengan pandangan mengerut.

“Aku udah bilang tadi malam, waktu Wilga udah tidur…”

“Kamu….” Wilga gemas setengah mati, apalagi melihat Ion mengerut di tempatnya karena ketakutan. Dia ingin mencubit Ion kesal, namun sepertinya Ion sudah pasang wajah takut dan sikap waspada. Wilga mengurungkan niatnya dan menggaruk kasar kepalanya. “Lalu sekarang kamu mau apa?” Wilga mencoba untuk balik bertanya.

“Aku mau pulang sebentar ke Indonesia. Ini kan udah dua tahun kita di sini, Wilga…! Aku kangen mereka…” Ion merengek. Wilga mengusap kasar wajahnya dan menatap Ion dengan tatapan tajam. “Sekalian buat liburan, sih…! Kan kita kemaren nggak dapat jatah liburan gara-gara ada summer camp, jadi sekarang aku mau pulang!” dengan tidak tahu dirinya Ion masih melanjutkan, mengabaikan tatapan tajam Wilga.

“Kamu anggap aku apa, sih…?!” amarah Wilga memuncak, apalagi saat melihat Ion menatapnya dengan pandangan tak bersalah sama sekali.

“Wilga marah, ya? Karena Ion nggak kasih tahu lebih awal kalau mau pulang kampung, ya? Wilga jadi nggak punya waktu buat packing, kan? Tenang, ntar aku bantuin.. aku bantuin…” Ion mengangguk-angguk imut, dan sumpah! Ingin sekali Wilga memasukkannya dalam karung agar tidak dibawa orang lain.

“Bukan masalah itu!!!” Wilga membentak. Ion menatapnya kikuk.

“Lalu? Wilga mau ikut pulang juga, kan? Wilga ikut, yuk…! Bundaku pengen ketemu sama Wilga. Bunda bilang, Bunda mau bilang makasih secara live…! Biasanya kan cuma telepon doang..!” Ion merayu, menatap Wilga dengan pandangan puppy eyes yang membuat Wilga ingin menyerangnya. Sayangnya, Wilga tak pernah melakukan apapun padanya. Dia hanya berani mencium, memeluk, menggandeng Ion. Dia tidak pernah melakukan hal lebih, karena dia tahu kalau Ion masih mengingat kejadian waktu dia dilecehkan waktu itu oleh orang-orang yang membencinya.

“Males, ah..! Waktunya juga cuma sebentar, cuma dua minggu kan?” Wilga menjawab malas. Ion manggut-manggut. Wilga menaikkan sebelah alisnya. Tumben Ion tidak merayu dan merajuk seperti biasa kalau permintaannya tidak dituruti. “Kok Cuma manggut-manggut aja?” Wilga bertanya dengan nada tidak suka.

“Soalnya selama ini aku udah ngerepotin Wilga, jadi sekarang aku udah nggak mau ngerepotin lagi! Ion mau mandiri, bisa berangkat sendiri juga… kan udah gedhe…!” Ion tersenyum kecil. “Aku mau packing dulu…” Ion beranjak dari tempat itu dan melangkah ke kamarnya dengan riang. Saat melihat punggung itu mulai membelakangi Wilga, ada rasa cemas yang muncul tiba-tiba. Apalagi saat melihat wajah Ion semakin hari juga semakin menawan, dengan kulit putihnya, mata teduh, alis sedikit tebal, gigi gingsul dan gigi kelincinya, lalu tubuh kecil mungil itu.. ah, siapa yang betah dengan orang seperti itu? Bahkan cowok normal pun akan terpesona dengan keimutannya itu.

Ketika Ion mencoba mengangkat kopernya yang berat dan kerepotan, barulah Wilga melangkah ke arahnya dan berkata cepat.

“Aku ikut! Aku nginap di rumah kamu!” Wilga berkata tegas. Ion mendongak hingga koper di tangannya terlepas. Untung saja dengan sigap Wilga menahan koper berat itu agar tidak menimpa kaki Ion.

“Beneran?!!! Cihuuuyyy…!!! Yeeeeeaaah…!” Ion berteriak dan melompat-lompat, memeluk Wilga dengan wajah senang sambil sesekali menciumi pipi Wilga dengan raut bahagia. Ekspresinya mirip anak kecil yang mendapat hadiah permen dari Ayahnya.

###

Akhirnya di sinilah mereka sekarang. Berdua dalam pesawat menuju ke Indonesia. Ion berkali-kali tersenyum senang, bahkan euforianya terlalu berlebihan hingga dia berlari kesana-kemari meninggalkan Wilga yang kerepotan membawa dua koper, miliknya dan Ion.

“Di rumahku ada Bunda, Ayah, lalu ada eyang, ada kakak sepupuku juga. Sekarang dia nginap di rumah juga soalnya biasanya kan dia tinggal di asrama, tapi pas tahu aku pulang dia akhirnya pulang juga…” Ion tak henti-hentinya bercerita. Wilga mendengarkan celoteh Ion selama dalam pesawat. Dia terus bercerita tanpa henti. “Sepupuku itu kembar, Wilga.. tapi kakaknya meninggal karena penyakit. Jadi aku selalu sedih kalau lihat wajahnya. Ngingetin aku sama kembarannya. Kakakku yang satunya…” Ion masih bercerita soal silsilah keluarganya. Bahkan dia sempat bercerita tentang kesukaan kakak sepupunya itu. Jujur, Wilga sedikit panas mendengarnya. Tidak, Wilga malah terbakar api cemburu sekarang!

“Dari tadi kamu cerita soal kakak sepupu kamu terus…! Panas kupingku dengernya..!” Wilga membentak, hingga penumpang pesawat yang lain menoleh ke arahnya. Ion menoleh dengan pandangan kikuk.

“Wilga, kalau ngomong jangan keras-keras…” Ion berbisik. Benar-benar…! Ah, cowok di depannya ini benar-benar membuat Wilga gemas setengah mati! Karena sudah tidak betah dengan kepolosan Ion yang keterlaluan itu, Wilga memutuskan untuk tidur….

###

“Bundaaaaaaa…..” Ion melambai dan berteriak dengan suara delapan oktafnya. Dia berlari seperti anak kecil ke arah suami istri yang sedang menunggunya di bandara. Ion berlari dan memeluk mereka bergantian, sementara Wilga yang menarik dua buah koper di belakangnya jauh tertinggal. Kedua orang tua Ion yang masih cantik dan ramah itu lalu menghampiri Wilga, memeluk Wilga seperti anak mereka sendiri.

“Ini pasti Wilga, ya?” Bunda Ion tersenyum lembut. Wilga tersenyum malu dan mengangguk. Ayah Ion menepuk-nepuk punggungnya dan tak lama kemudian seorang supir membawa dua buah koper itu.

“Nggak usah sungkan-sungkan, Wilga..! Anggap aja rumah sendiri…” mereka menyambut Wilga dengan ramah. Ion memeluk lengan Bundanya sayang dan sejak tadi dia terus merajuk. Ah, pantas saja selama ini dia begitu! Mungkin karena sudah terbiasa juga dia bertingkah begitu pada Bundanya.

Mereka sampai di sebuah rumah bergaya minimalis dengan halaman luas yang ditumbuhi bunga. Tampak indah walau tidak mewah. Namun dari sana terlihat jelas bagaimana kehangatan keluarga yang ada di sana. Wilga tersenyum, membayangkan keluarganya yang mungkin sekarang sedang sibuk bekerja. Mungkin mereka sekarang tidak tahu kalau anak mereka sedang menginap di Indonesia. Ya, bagaimana lagi…! Mereka juga punya kesibukan sendiri.

“Bunda, kakak mana?” Ion bertanya begitu mereka masuk ke dalam rumah. Wilga sejak tadi merasa diacuhkan oleh Ion dan dia sibuk mengobrol dengan Ayah Ion. Sedangkan Ion sudah menempel pada Ibunya dengan wajah manja.

“Dia lagi keluar beli cemilan katanya. Mau beliin cemilan buat kamu…”

Ion mengangguk paham. Wilga ikut membereskan koper, hingga sebuah motor berhenti di depannya. Pengendaranya mengenakan helm berkaca gelap. Setelah memarkir motornya di garasi, pengendara itu membuka helmnya dan….

Wilga mematung di tempatnya. Sementara itu, pengendara motor itu menoleh dan menatap ke arahnya dengan wajah datar. Sedetik kemudian Ion memekik nyaring dan berteriak kencang lalu melompat memeluknya.

“Kakak…!!! Kangeeeeeeennnn….!!!” Ion sudah memeluk cowok itu hingga cowok itu hampir terjungkal. Cowok berwajah datar itu hanya terkekeh dan menepuk-nepuk kepala Ion. Wilga masih membeku di tempatnya, perlahan jantungnya berdegup kencang diselingi dengan rasa sakit yang muncul tiba-tiba saat melihat wajah itu. Wajah yang sangat mirip dengan “dia” yang telah meninggal. Dia yang telah memberikan warna dalam hidupnya namun tiba-tiba pergi. Vano, cinta pertamanya yang telah meninggal. Vano, cowok yang pernah mengalihkan dunianya dan membalik dunianya begitu saja.

“Ion…! Maaf, ya.. tadi kakak nggak sempet jemput kamu ke bandara..” cowok itu mengusap-usap sayang kepala Ion. Ion mengangguk paham dan tersenyum.

“Va… Vano…” suara Wilga tiba-tiba tercekat di tenggorokan. Cukup pelan, namun mampu membuat Ion dan cowok itu menoleh bersamaan. Dalam sekejap Wilga langsung memeluk cowok itu erat. Cowok itu mengernyit bingung, lalu melepaskan pelukan Wilga dengan kasar. Sementara itu, Ion menatap Wilga dengan pandangan kesal.

“Kamu kenal sama kakakku..?” Ion bertanya tajam. Sapaan “Wilga” yang biasanya dia ucapkan berganti dengan kata “kamu”, tanda kalau Ion sedang marah.

“Vano…” Wilga hanya mampu mengatakan kata itu. Cowok di depannya yang sangat mirip dengan Vano itu menepuk dahinya sendiri lalu menggeleng cepat.

“Loe salah orang, bro…! Gue Vino, kembaran Vano.. Loe salah orang, gue Cuma kembarannya aja..!” cowok itu menjawab cepat dengan nada datarnya. Dia memang bukan Vano.

“Kamu kenal kak Vano darimana..?” Ion bertanya curiga. Wilga menoleh ke arah Ion dan mengacak rambutnya ragu. Ragu untuk mengatakan yang sebenarnya pada Ion, takut kalau seandainya Ion cemburu dan marah.

“Kami dulu sahabatan, dan sempet tinggal satu asrama juga…” Wilga menjawab pelan. Ion menatap Wilga dengan pandangan curiga, namun kecurigaan itu teralihkan dengan tepukan lembut di pipinya. Pelakunya tentu saja Vino.

“Nih pipi udah makin kurus aja! Mana nih tembemnya..?” Vino menggoda, lalu mencubit pipi Ion gemas.

“Kak Vinoooo…!” Ion berteriak kencang dan memukul tangan Vino. Vino tertawa kencang, dan itu sukses membuat Wilga semakin ingat pada Vano. Rasa penasaran muncul tiba-tiba dari dalam hatinya. Bagaimana bisa mereka berdua berhubungan. Vano ternyata memiliki kembaran, dan lebih pasnya lagi, Ion ternyata sepupu mereka. Ini kebetulan yang terlalu mustahil!

Mereka masuk ke dalam rumah, tentu saja dengan Ion yang masih cemberut karena sejak tadi Wilga sibuk menatap Vino. Kalau ditanya perasaannya sekarang, tentu saja dia sangat menyayangi Ion, tapi saat ini dia sangat merindukan sahabatnya, Vano. Ya, hanya sebatas sahabat! Namun sayangnya Ion sudah menganggap kalau Wilga menyukai kakak sepupunya, Vino.

“Kenapa dari tadi kamu lihatin kak Vino terus?” Ion bertanya cepat begitu mereka sudah sampai di kamar mereka. Wilga menoleh ke arahnya dengan wajah bingung.

“Karena dia mirip sama Vano, sayang..! Dia ngingetin aku sama sahabatku..”

“Bohong! Pasti Wilga suka sama kak Vino!!”

Wilga menggeleng tegas. Ion menatap wajah Wilga tak percaya. Bibirnya mengerucut kesal. Wilga menghembuskan nafas gusar, dia berdiri lalu ketika akan mengecup bibir Ion, Ion menghindar. Ion benar-benar marah. Ah, tidak.. cemburu sepertinya!

“Kalian pasti ada hubungan apa-apa…!” Ion menuduh. Wilga bengong.

“Lah, aku aja baru sekali ini ketemu sama dia, sayang…! Aku kan udah bilang, aku kaget karena dia mirip banget sama Vano. Kan aku udah jelasin kalau Vano itu sahabatku pas di asrama dulu,” jawab Wilga cepat. Ion masih mengerucutkan bibirnya tak percaya.

“Lalu perasaan Wilga ke kak Vano gimana?” pertanyaan Wilga telak membuat Wilga bungkam. “Jawab, Wilga…!” Ion mendesak dengan paksa.

“Dulu Vano cinta pertamaku…” jawaban Wilga sukses membuat Ion semakin sakit hati.

“Kalau kayak gitu sekarang Wilga pengen deketin kak Vino karena dia mirip sama kak Vano?”

“Sama sekali nggak!! Aku cuma sayang sama kamu…!”

“Bullshit!!”

“Buat apa aku bohongin kamu, coba?”

“Buat deket sama kak Vino, lah…!” Ion menjerit kencang. Untung saja kamar mereka dalam keadaan tertutup. “Kalau emang Wilga masih suka sama kak Vano dan langsung suka pas lihat kak Vino karena dia mirip, mending Wilga kejar sana kak Vinonya..!”

“Gila! Mana mungkin aku ngejar orang lain, sementara perasaanku cuma buat kamu…?!”

“Dulu perasaan Wilga buat kak Vano, kan? Lalu kak Vano meninggal dan Wilga udah bisa lupain kak Vano karena aku, tapi sekarang ada yang mirip kak Vano jadi mending Wilga pergi sana…! Kejar kak Vano KW satu itu..!!” Ion berteriak gemas sambil mengacak rambutnya. Sebenarnya Wilga ingin tertawa kencang, apalagi saat melihat ekspresinya dan juga mendengar kata-katanya. Dia terlihat imut dan menggemaskan, mirip anak kecil yang sedang kesal karena dikerjai. Sedang marah saja Ion terlihat begitu menggemaskan. Ah, ingin rasanya Wilga menyerangnya! Namun sayangnya hingga saat ini dia tak pernah melakukan apapun padanya selain mencium, memeluk, dan menggandengnya. Dia takut kalau Ion masih trauma dengan masa lalunya.

“Jujur, perasaan seseorang itu nggak semudah itu berubah, Ion..! Denger, aku udah anggap Vano adalah masa laluku. Sekarang perasaanku Cuma buat kamu…”

“Masa depan Wilga kan belum ditentuin! Wilga juga sekarang panggil Ion dengan sebutan itu. Biasanya panggilnya ‘imut’, atau ‘mungil’, atau ‘sayang’… itu artinya Wilga udah mulai bosen sama Ion…!” bibir Ion mengerucut. Air mata mulai menggenang di kelopak matanya. Wilga semakin gemas.

“Iya, iya.. maaf, sayang…! Apa yang harus aku lakuin biar bikin kamu percaya?” Wilga mengalah.

“Jangan deketin kakakku, termasuk ajak ngobrol dia!” Ion merajuk. Wilga melotot.

“Ya ampun, sampe segitunya ya? Aku nggak pernah ada niatan buat deketin kakak kamu! Kenapa kamu jadi posesif gini, sih? Kamu jadi cerewet gini kenapa, sih Ion…?”

“Itu udah aku anggap penolakan! Oke, selesai! Ion tahu, kok…! Sekarang terserah Wilga mau gimana-gimana juga, aku nggak peduli!” Ion berbalik dan pergi dari kamarnya meninggalkan Wilga sendiri di sana. Begitu Ion pergi dari kamar itu, Vino yang sejak tadi merasa ada yang aneh dengan mereka langsung masuk ke dalam kamar Ion. Wajah datar dan ketusnya muncul di sana, berbeda sekali dengan Vano.

“Sebenernya ini bukan urusan gue dan gue males buat ikut campur, tapi masalahnya gue ngerasa ada yang aneh sama kalian. Sorry, bukan maksud gue sok tahu..!” Vino to the point. Wilga semakin yakin kalau cowok di depannya pasti bukan Vano.

“Kamu tahu sesuatu..?” Wilga balas bertanya.

“Gue tahu sifat sepupu gue. Gue juga tahu kalau kalian pacaran. Iya, kan?”

“Maaf kalau kami bikin malu keluarga kalian..”

“Santai aja, kali..! Gue sih open mind aja, lagian juga asal Ion bahagia gue udah seneng, kok..! Makanya, gue nggak bakalan biarin loe nyakitin dia!” suara Vino terdengar dingin. Wilga menatap wajah Vino. Sungguh, tak pernah ada rasa khusus yang ada dalam hatinya saat menatap wajah yang mirip Vano itu. Ya, karena dia bukan Vano dan juga hatinya sekarang terisi oleh Ion!

“Lalu apa yang harus aku lakuin?” Wilga bertanya pelan.

“Jauhin Ion! Gue tahu kalau loe ada hubungannya sama kakak gue, makanya gue nggak mau sepupu gue jadi ikut imbas perasaan loe yang nggak bisa move on itu!”

“Aku anggap kakak kamu adalah kenangan terindah dalam hidupku. Tapi sekarang hatiku udah ada Ion!”

“Let me go from this bullshit, bro..!” Vino mengibaskan tangannya dan pergi dari hadapan Wilga dengan tak tahu dirinya. Wilga terdiam, lalu menunduk. Mengacak gusar rambutnya.

###

Lalu seperti itulah. Sudah seharian ini Ion menghindari Wilga. Mereka mungkin bicara seperlunya saja, tak pernah menyinggung pada hubungan mereka. Ion masih sama seperti sebelumnya, cuek dan juga dingin pada Wilga sejak pembicaraan kemarin itu.

“Mau cari siapa, ya?” suara cempreng Ion muncul saat seorang cowok turun dari motornya lalu menekan bel di pagar depan.

“Itu… eh.. Vinonya ada…?” cowok itu bertanya gugup. Ion mengangguk cepat.

“Ada.. ada…! Kak Vinoooo…!! Ada cowok yang nyari kakak, nih…!” Ion berteriak kencang. Cowok itu tersenyum keki melihat reaksi cowok di depannya ini.

“Siapa..?” Vino muncul dari dalam rumah namun masih dalam balutan boxernya. Dia mengacak rambut kusutnya dan menguap. Matanya melotot kaget saat melihat cowok keren teman sekelasnya sekaligus tetangganya di asrama sedang tersenyum di depannya bersama sepupunya. “Loe ngapain di siniiii….?!!!!” Vino berteriak kencang.

“Hai, Vino…!”

“Kalian nggak janjian dulu, ya…?” kali ini suara cempreng Ion yang menginterupsi obrolan dan kekagetan mereka.

Dan akhirnya di sinilah mereka. Duduk di bangku taman, di belakang rumah. Ion menggaruk kepalanya bingung. Sepertinya hanya dia yang tidak tahu apa-apa di sana. Bertiga antara Vino, Ion dan Egi.

“Kak Vino.. kak Egi ini siapanya kakak?” Ion bertanya polos.

“Cuma temen, Ion..!” Vino menjawab cepat.

“Tapi aku sayang banget sama kakak kamu, Ion..” Egi ikut membalas, berkedip genit ke arahnya. Ion terkekeh geli. Vino menatap keki wajah Egi, cemas kalau Ion nantinya akan menganggapnya yang bukan-bukan.

“Kak Vino susah ditaklukkan. Dulu aja yang nembak kebanyakan ceweknya dulu!” Ion mulai bergosip. Egi melongo.

“Kalau ini sih aku yang akan bertindak lebih dulu, Ion..” Egi lagi-lagi terkekeh. Vino semakin sewot, lalu memukul kepala Egi kesal. Ketika mereka sedang asyik-asyiknya bercanda, tiba-tiba kehadiran Wilga membuat obrolan mereka terhenti. Egi dan Wilga saling tunjuk dan keduanya melongo. Ini kebetulan lagi-lagi!

“Ngapain loe di sini?” Wilga bertanya cepat ke arah Egi. Egi berdehem lalu merangkul bahu Vino.

“Ngunjungin pujaan hati gue, lah Wil..!”

Vino menghempaskan rangkulan Egi dan memukul dahinya kencang. Egi balas menatap wajah Vino lalu berkedip ke arahnya. Namun sedetik kemudian Egi langsung menyadari sesuatu. Dia langsung berdiri dan menarik tangan Vino menjauh dari tempat itu. Egi berlari dan menarik tangan Vino menjauh.

“Kak Vino sama kak Egi mau kemana…?” Ion berteriak memanggil mereka dengan wajah bingung.

“Pangeran mau bawa kabur tuan putri dari monster jahat, Ion..! Pangeran nggak mau tuan putrinya direbut sama monster..! Hahaha…” Egi tertawa puas karena berhasil mengejek Wilga. Sementara itu, Vino berteriak protes karena perlakuan Egi. Egi masih tertawa kencang, menarik tangan Vino dan memaksanya naik ke motornya. Mereka pergi entah kemana.

Di sisi lain setelah kepergian Egi dan Vino, Ion dan Wilga hanya saling menatap. Perang dingin masih menyelimuti mereka.

“Mau sampe kapan kita berantem kayak gini?” suara Wilga memecah keheningan itu. Ion terdiam, dan tak lama kemudian dia menjawab lirih.

“Wilga, aku mau kita putus!”

###

“Kenapa loe ajak gue ke sini?!” Vino protes saat Egi membawanya ke taman kompleks yang tak jauh dari rumahnya. Egi turun dari motornya dan menyusul Vino yang melangkah lebih dulu.

“Mereka harus bicara, Vin..”

“Urusannya sama gue apaan? Lalu sama loe emang ada urusan apa?”

“Karena nggak ada urusan itulah kita harus pergi dari sana…”

“Kenapa gue harus dengerin loe?”

“Vino, aku sayang kamu…”

“Ish, apaan sih…?!” wajah Vino jutek, keki setengah mati. “Trus, ngapain loe nyusul gue ke sini?”

“Aku kangen kamu…!”

“Trus…?”

“Makanya aku dat…”

Ucapan Egi terputus saat melihat Wilga muncul tiba-tiba di depan mereka dengan wajah kacau. Keringat dan ekspresi pucat tergambar di wajahnya. Egi dan Vino saling pandang, sedangkan Wilga balas menatap mereka dengan wajah putus asa.

“Tolong bantuin aku…!” wajah Wilga kacau. Bibirnya gemetar, sementara air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.

“Ada apaan, Wil?” Egi bertanya curiga. Namun Wilga hanya mampu memegang dadanya, lalu menangis.

“Aku cinta banget sama Ion..! Aku sayang dia..! Aku nggak bisa hidup tanpa dia..”

“Kalian ada apa?” kali ini Vino yang bertanya curiga.

“Dia bilang putus! Dia bilang putus! Nggak, aku nggak mau putus!! Tolong, Vino.. tolong yakinin dia, aku sayang dia…!”

“Itu udah keputusan dia, kan Wil?” Vino bertanya dingin.

“Kenapa kalian nggak omongin dulu? Mungkin saat ini Ion masih emosi sesaat? Dia mungkin masih shock karena orang yang dulu ada di hati kekasihnya adalah kakak sepupu kesayangannya.” Kali ini Egi yang menyahut. Vino menatap Egi tidak suka. Ada tatapan protes di matanya.

“Apa maksud kamu ngomong kayak gitu?” Vino menatap Egi tajam.

“Apa lagi? Aku nggak mau mereka putus. Apalagi? Ah, tentu aja aku nggak mau Ion salah paham kalau si Wilga masih ingat Vano. Juga, aku nggak mau Wilga anggap kamu Vano. Kamu bukan Vano, kan? Aku nggak mau kamu digaet dia!” Egi tiba-tiba ikut menatap wajah Vino tajam.

“Ini bukan waktunya buat ngomongin itu!!” Wilga berteriak kencang. “Aku bener-bener sayang, tulus sayang sama Ion! Sekarang dia nggak mau nemuin aku..”

“Tetep aja gue nggak rela sepupu kesayangan gue sakit hati gara-gara itu!” Vino beranjak pergi dari tempat itu. Sementara itu, Egi yang melihat wajah kacau Wilga langsung merencanakan sesuatu.

“Gue dukung loe sama Ion..! Gue bisa bantuin loe biar kalian bisa ngomongin itu berdua. Ntar malem, datang ke sini jam tujuh. Gue bakalan coba rayu Ion ke sini…” Egi menepuk pundak Wilga. Wilga mengangguk pelan.

###

Pukul tujuh malam…

“Kak Egi ngapain sih ngajakin Ion ke sini?” Ion bertanya ingin tahu saat Egi membawanya ke taman kompleks. “Ion lagi nggak mood keluar, nih! Males ketemu sama Wilga kalau pulang ntar…! Mending Ion diem di kamar aja..!” Ion merajuk.

“Nggak apa, kan biar Ion nggak suntuk di kamar sendirian…”

“Kak Egi udah izin sama kak Vino, belum?”

“Eh.. itu… itu…”

“Kalau kak Vino tahu, bisa-bisa kak Egi dimarahin kalau ngajak Ion maen diam-diam..”

“Ya itu ntar aja, deh…! Ayo, deh ikut…” Egi menarik tangan Ion dan melangkah ke suatu tempat di sudut taman kompleks. Wilga sudah menunggu di sana. Ion menghentikan langkahnya.

“Maksudnya apa ini?!!” Ion bertanya marah. Egi menepuk kepala Ion.

“Dia mau ngomong sesuatu.”

“Kami udah putus, nggak ada yang perlu diomongin lagi!!” begitu Ion ingin berbalik dan pergi, Wilga langsung berlari ke arahnya dan menahan lengan Ion.

“Tolong dengerin aku sekali ini…!” Wilga memelas. Ion menatapnya ragu sejenak, namun akhirnya mau tak mau dia menurut juga. Egi pergi dari tempat itu, dan kembali ke rumah Vino. Sementara itu, Vino sedang bingung mencari keberadaan Ion. Dia mencari ke seluruh penjuru rumah, namun sayangnya Ion tak ada di manapun. Bahkan, Wilga juga tak ada. Begitu melihat Egi datang dengan wajah senyum-senyumnya, Vino langsung tahu kemana Ion pergi sepertinya.

“Udah gue bilang berkali-kali jangan ikut campur urusan mereka!!!” Buakk! Vino langsung melayangkan tinjunya ke arah Egi.

Mari kita tinggalkan emosi tingkat dewa Vino terhadap Egi. Saat ini di salah satu bangku taman di kompleks kota, Ion dan Wilga sedang adu mulut.

“Aku nggak mau putus!” Wilga menggeleng tegas.

“Lalu kenapa Wilga bilang kalau Ion cerewet? Wilga juga bilang nggak mau Ion posesif kayak gitu! Sekarang udah terkabul, kan? Jadi Wilga nggak perlu cemas ada yang cerewet dan juga posesif lagi..”

Wilga mengacak kasar rambutnya.

“Ion sayang, dengerin aku…!”

“Nggak mau, pasti Wilga masih inget sama kak Vano… Makanya pas lihat kak Vino, Wilga malah coba deketin dia karena wajah mereka mirip…” alasan Ion masih tetap sama.

“Aku nggak pernah ada niatan buat deketin dia sedikitpun, aku Cuma pengen kenal dia sebagai sepupu kamu, sepupu pacarku…”

“Rasa penasaran itu bisa berkembang jadi cinta…!!”

“Kamu tahu, Vano itu Cuma masa lalu…”

“Iya, tapi ada orang yang mirip masa lalu kamu di sini..! Udah, ah…! Ion nggak mau ketemu Wilga lagi!”

“Jangan bilang kalau…”

“Sejak awal kan aku udah bilang kalau kita putus!!!”

“Aku nggak mau!!! Nggak, sampai kapanpun aku nggak mau lepasin kamu!!” Wilga menjerit kencang, memeluk Ion kasar dan erat seolah dia tak akan melepaskannya untuk selamanya.

“Wilga, lepasin aku…!!!”

“Ion.. tolong percaya sama aku.. tolong percaya sama aku…” Wilga terisak dan akhirnya menangis sesenggukan dalam pelukan Ion. Ion membisu, dia tak menyangka kalau Wilga akan sekalut ini ketika dia mengatakan putus padanya.

“Wilga nggak mau Ion putusin?” suara polos Ion terdengar kembali. Wilga mengangguk cepat.

“Mulai sekarang Ion nggak akan cerewet dan posesif lagi sama Wilga…”

“Nggak.. Nggak…! Aku bakalan dengerin semua yang kamu bilang..! Jadi tolong jangan tinggalin aku…” Wilga masih sesenggukan. Ion terdiam, lalu mengusap kepala Wilga sayang.

“Iya, iya…! Cup.. cup…” Ion berkata pelan. Wilga membeku dalam pelukan Ion. Wilga tersenyum lalu menarik Ion dan menyapukan bibirnya di bibir Ion. Ion kaget karena perbuatan spontan Wilga. Ah, lupakan mereka yang sudah berbaikan itu! Karena pasangan satunya sedang dalam kondisi kritis sekarang.

“Kenapa loe ikut campur? Gue kan udah bilang, itu bukan urusan loe…!” Vino berteriak histeris. Sudut bibir Egi berdarah karena pukulan Vino tadi.

”Kamu juga ikut campur, kan?”

“Ion sepupuku, dan aku nggak rela sepupu kesayanganku sama cowok yang bahkan nggak bisa lupain cinta pertamanya…!”

“Kamu lupa, ya…? Dulu aku juga sayang sama Vano… Tapi sekarang aku anggap Vano adalah kenangan yang indah, sedangkan perasaanku buat kamu…”

“Trus?”

“Karena itu…”

“Itu bukan urusan gue karena loe bukan siapa-siapa gue, kan? Kenapa gue harus repot-repot mikirin perasaan itu? Loe sayang sama siapa juga gue nggak peduli..”

“Aku sayang sama kamu…”

“Trus?”

“Aku sayang sama kamu, kenapa kamu nggak paham juga?”

“Loe juga sayang Vano, loe sayang siapapun juga itu hak loe…!”

“Vano masa lalu, sekarang kamu yang ada di depanku…”

“Lantas kalau gue ilang, loe bakalan anggap gue masa lalu loe? Ah, picik banget sih pikiran loe..”

“Jujur, kalau aku harus kehilangan kamu lebih baik aku mati aja…”

“Bullshit!”

Jleb! Tiba-tiba Egi menusuk pergelangan tangannya sendiri dengan paku berkarat yang dia temukan di tanah. Vino menjerit, menarik tangan Egi dan langsung menampar pipinya.

“Loe ngapain?!!” Vino berteriak kencang. Egi menatapnya dengan raut sedih.

“Aku beneran sayang sama kamu…”

“Gue benci orang yang nggak menghargai tentang hidup!!!” Vino menjerit, dan tak lama kemudian air mata sudah mengalir di pipinya. “Cukup Vano yang pergi dari hidup gue..! Gue nggak mau kehilangan orang yang gue sayang lagi…” Vano menenggelamkan wajahnya di antara lututnya. Tubuhnya terguncang karena menahan isak tangis.

“Aku sayang kamu!” Egi memeluk Vino sayang, mencium keningnya perlahan. Sementara itu, Vino menyentuh pergelangan tangan Egi yang berdarah. Dia masih menangis.

“Kenapa loe harus lukai diri loe sendiri buat gue yang bahkan nggak menghargai loe?”

“Siapa bilang? Kamu adalah duniaku… Separuh sayap yang harus aku pertahankan kalau aku ingin terbang… Aku tahu hati kamu dibanding siapapun…!” Egi mengecup bibir Vino sekilas. “Aku sayang kamu…”

“Ini lukanya harus diobati.. hiks.. hiks…” tangis Vino makin kencang. Dia mengalihkan pembicaraan. Ya, karena dia sangat terharu.. Dia merasa sangat dicintai.

Dua pasang sayap itu sedang merentangkan sayapnya saat ini. Tinggal menunggu apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Let’s See…!

END – Next to the last story of Sayap Series

Just You and Him (Next Story of “Sayap Baru”)

Kamu akan merasakan betapa berartinya orang itu…

            Saat dia meninggalkanmu…

 

Seorang cowok manis sedang membaca komik di dalam sebuah kamar apartemen. Dia tertawa kencang, sesekali menirukan suara tokoh Shinchan dalam komik yang dibacanya. Ketika ada adegan lucu di dalam komik, dia tertawa kencang dan berguling-guling di kasur king size-nya hingga bed cover dan selimutnya berantakan. Sayangnya, kasur dan apartemen itu bukan miliknya.

“Kamu bisa, nggak sih nggak usah berisik?” suara cowok lain yang sejak tadi sibuk mengetik di laptopnya akhirnya terdengar. Suara tajamnya masih belum bisa membuat cowok manis yang sedang berguling-guling itu terdiam.

“Seru, sih Wilga…! Shinchan lucu…!” Ion, cowok manis itu masih tergelak di atas kasur Wilga.

“Kamu berisik banget! Aku terganggu, tau!” Wilga berteriak kencang.

“Wilga, aku lapar.. Kamu punya makanan, nggak?” Ion bangkit dari kasurnya dan melangkah cepat dengan wajah ingin tahu. Dia membuka kulkas Wilga dan mengacak-acak isinya. Wilga yang sejak tadi terdiam menatap laptopnya mulai risih dengan tingkah Ion. Apalagi saat dia melihat Ion mulai membuka semua cadangan makanannya mulai dari nugget, mie instan, dan minuman-minuman lainnya. Dengan wajah riang karena telah menemukan harta karun di kulkas Wilga, Ion langsung melangkah cepat ke dapur Wilga. Dia bernyanyi riang dan mulai menyiapkan tempat untuk memasak makanannya. Wilga menghembuskan nafas gusar. Oke, Wilga! Abaikan dia! Abaikan! Jangan terganggu oleh cowok imut dan lucu itu!

Nyesss…! Wilga menoleh ke arah suara mencurigakan di dapurnya. Dia melotot kaget. Dapur Wilga mulai berasap! Wilga melotot ngeri dan berlari cepat dengan wajah kelabakan. Dia mengambil tabung pemadam kebakaran dan langsung menyemprotkannya ke arah kompor. Sementara itu Ion terbatuk-batuk dengan ekspresi takut. Namun sesaat kemudian matanya mengerjap lucu dan bibirnya mengerucut imut.

“Wah, masakanku gagal..! Aku nggak jadi masak, deh! Aku mau beli aja, ah!” Ion pergi dengan riang, ringan tanpa terbebani tanggungjawab membereskan kekacauan ini. Wilga melotot kesal.

“Woi, woi! Mau kemana? Woi, beresin kekacauan ini!” Wilga berteriak galak. Namun Ion hanya melangkah riang dan kemudian pintu apartemen pun tertutup dari luar. Dia kabur setelah membuat dapur Wilga berantakan. Wilga berteriak kencang karena kesal. Ion benar-benar menguji kesabarannya!

***

“Wilga…! Aku bobo sini, ya? Aku takut sendirian…!” Ion tiba-tiba muncul saat Wilga sedang bersiap untuk merebahkan diri di kasurnya. Ion sudah hafal password apartemen Wilga, dan bahkan dengan seenaknya terkadang dialah yang mengubah password itu. Wilga yang baru pulang dari sekolah biasanya langsung gusar dan langsung menekan bel kamar Ion. Saat Ion muncul dengan baju lucu bergambar angry bird dan wajah mengantuk, Wilga langsung bengong dan lupa dengan tujuan marahnya karena mengganti password apartemen Wilga seenaknya. Ion selalu beralasan, password itu harus sering diganti, agar tidak ada pencuri yang masuk.

“Kenapa kamu hobi banget nginap sini, sih?” Wilga menatap malas wajah Ion yang sedang cemberut dan menggendong boneka gajah kesukaannya.

“Aku kan kesepian, maunya ditemenin sama Wilga! Boleh, ya? Boleh, ya? Pasti boleh, cihuy…!” Ion melompat ke kasur Wilga dan langsung merebahkan diri di sebelah Wilga. Wilga mengacak gusar rambutnya dan memutuskan untuk ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Ion.

“Wilgaaaa…. Nyanyi, dong…!” Ion mencicit di sebelahnya. Wilga hanya terdiam dan pura-pura tertidur.

“Wilgaaaaa….! Kamu udah tidur, ya? Hmmm… aku aja, deh yang nyanyi…” Ion mengangguk-angguk, menarik nafas, dan mulai bernyanyi. Tidak, dia bukan bernyanyi! Tapi menjerit dengan suara sumbang. Suaranya memekakkan telinga, dan suara buta nadanya itu memang sesuatu…! Mau tak mau Wilga langsung membuka lebar kedua matanya.

“Stop! Kamu mau bikin telingaku tuli, apa?!” Wilga menoleh ke arahnya dengan wajah horor. Ion terkekeh.

“Maaf, ya Wilga…! Suaraku kan jelek, aku nggak bisa nyanyi…” Ion masih cengar-cengir sambil memeluk erat boneka gajahnya.

“Mendingan kamu diem, deh!” Wilga masih enggan berbicara banyak. Matanya sudah terbuka lebar karena teriakan Ion tadi.

“Tapi aku nggak bisa tidur kalau sepi gini, Wilga…!” suara Ion merajuk kesal. Wilga kembali mengacak gusar rambutnya. Cowok imut ini sudah mengganggu tidurnya, mulai dari datang tiba-tiba, tidur di sebelahnya dan menghabiskan jatah kasurnya hampir tiga perempatnya karena boneka gajah besarnya itu, menolak untuk mematikan lampu, dan sekarang dia harus meladeni ucapannya untuk bernyanyi sebelum tidur? Hoho… sabarlah, Wilga! Sabar! Lagipula kamu sudah berjanji untuk melindunginya, kan? Sifatnya itu memang mengkhawatirkan!

“Oke, aku bakalan nyanyi! Kamu tidur sana!” Wilga menurut. Entah mengapa sepertinya Wilga selalu menuruti permintaan Ion yang aneh-aneh itu. Wilga menarik nafas, lalu mulai bernyanyi sampai akhirnya Ion menggeleng.

“Aku nggak mau lagu itu! Itu kan lagunya sedih… Aku mau request lagu lain…”

“Aish, ya udah! Lagu apa?” Wilga mendecak kesal.

“Nina bobo, tapi ‘Nina’nya diganti nama ‘Ion’…! Ya? Ya?” Ion tersenyum lucu. Wilga mendengus dan mulai menuruti permintaan Ion. Dia bernyanyi dan terus bernyanyi, mengulang lirik yang sama.

“Wilga, aku belum bisa bobo…! Boleh ganti lagu, nggak?” Ion menatapnya lugu lagi. Lagi? Sabar Wilga, sabar! Kenapa kamu selalu kalah dengan cowok ini? Permintaannya selalu mutlak untuk kamu turuti..! Hmmm…

“Apa? Buruan! Aku udah ngantuk!”

“Lagu pelangi, tapi ‘Agung’nya diganti jadi ‘Ion’…” Ion menatapnya penuh harap lagi, tatapan yang selalu sukses membuat Wilga mati kutu.

“Oke, Oke…” Wilga mendengus untuk yang kesekian kalinya. Heran, kenapa yang Ion hafal cuma lagu anak-anak, sih? Wilga mulai bernyanyi, namun ketika sampai pada lirik ‘Pelukismu Ion…’, Ion tergelak geli dan tertawa kencang. Wilga melotot kesal ke arahnya. “Kenapa malah ketawa?”

“Itu lagunya jadi lucu, Wilga! Aku jadi kayak pelukis, padahal aku nggak bisa lukis…” suara Ion terkikik geli. Wilga mengutuk dalam hati. Sebenarnya dia sempat cemas kalau Ion sampai berubah menjadi pribadi yang lain karena kejadian saat itu. Namun sayangnya Ion malah berubah jadi makin menyebalkan dari sebelumnya. Dia bersikap seolah tak pernah terjadi apa-apa selama ini.

“Udah, tidur!” Wilga mendorong dahi Ion hingga kepalanya tergeletak kembali ke bantalnya. Ion tergelak geli. Wilga menjatuhkan dirinya dan pura-pura menutup mata dan tidak mendengarkan ucapan Ion. Ion bernyanyi, kali ini dengan suara sumbang namun dengan volume lirih. Wilga hanya terdiam, dan kemudian suara Ion mengilang. Ion telah terlelap dalam tidurnya. Melihat wajah damai Ion saat tertidur, perlahan Wilga tersenyum dan kemudian mengecup lembut keningnya. Entah bagaimana perasaannya begitu bahagia saat cowok imut nan menyebalkan ini berada di sampingnya.

***

Lalu begitulah hari-hari Wilga. Setiap hari Ion akan datang ke apartemennya, berbuat rusuh dan juga mengganggu kegiatan Wilga. Wilga hanya cuek dan sesekali hanya marah-marah saat Ion bertingkah menyebalkan. Seperti saat Ion datang untuk menumpang mandi, dan dia malah tertidur di dalam hingga Wilga yang sedang kebelet pipis jadi gila dibuatnya. Bukan hanya itu, Ion juga tidak segan-segan menumpang makan di apartemennya. Dia akan datang saat jam-jam tertentu untuk makan, mandi, tidur, membaca komik, dan kegiatan-kegiatan lain yang mungkin bisa dia lakukan sendiri di apartemennya.

Sudah hampir sebulan lebih Ion bertingkah seperti itu, membuat pusing hari-hari Wilga yang biasanya damai saat di Indonesia. Namun, anehnya hari ini Wilga tak melihat batang hidung Ion. Biasanya pagi-pagi dia akan nebeng sarapan di tempatnya. Kalau Wilga terlambat bangun, dialah yang membawa makanan dari apartemennya dan mengajak Wilga sarapan bersama. Selain itu, setiap pulang sekolah dia selalu muncul di apartemen Wilga dan menonton televisi atau mengerjakan tugas sekolahnya, dia hanya kembali ke apartemennya untuk berganti baju dan juga mengambil bukunya. Sore harinya dia hanya berdiam diri di kamarnya sendiri, dan barulah sekitar jam delapan malam dia akan mengganggu apartemen Wilga dan memaksa tidur bersama Wilga.

Pagi ini, siang ini, sore ini, malam ini Ion sama sekali tidak muncul di apartemen Wilga. Sepi. Seperti ada yang kurang. Wilga merasa apartemennya terasa lebih luas dan kosong sekarang. Entahlah, padahal dia sudah biasa dengan teriakan dan tawa Ion setiap hari. Ah, mungkin Ion hanya sedang sibuk. Wilga berpikir positif dan meneruskan aktivitasnya kembali. Untuk saat ini Wilga ingin menikmati masa sendirinya dulu, masa kedamaian di apartemennya. Wilga mulai meneruskan aktivitas bersih-bersihnya. Dia berdecak begitu melihat komik-komiknya yang berserakan di lantai. Ini pasti ulah Ion! Setelah selesai membereskan semuanya, Wilga beranjak ke kamar mandi dan melihat beberapa mainan seperti bebek-bebek warna kuning di dalam ember di dekat bathupnya. Ini juga pasti ulah Ion! Hampir di setiap tempat terdapat jejak Ion. Ah, entah sejak kapan Wilga mulai kangen dengan kehadirannya! Tapi mungkin besok dia pasti akan mengunjunginya kembali. Mungkin saat ini dia sedang sibuk dengan tugasnya. Wilga belum pernah mengunjungi apartemen Ion, karena itulah dia belum tahu apa-apa.

Hari kedua. Ion masih belum muncul di apartemennya. Wilga mulai gusar. Berkali-kali dia membuka pintu apartemennya hanya untuk mengintip apartemen Ion. Namun sepertinya tak ada pergerakan dalam apartemen itu. Apartemen itu seolah kosong tanpa penghuni. Wilga mencoba untuk berpositif thinking, sampai akhirnya ketika hari ketiga Ion tak muncul di apartemennya, Wilga mulai cemas dan gusar. Wilga takut sesutu terjadi padanya. Wilga langsung menekan bel di apartemen Ion dengan tidak sabaran. Namun, lagi-lagi tidak ada jawaban. Wilga masih belum menyerah, dia berganti menggedor-gedor pintu apartemen Ion. Tapi seperti yang sebelumnya, Ion tidak ada. Dia tidak muncul di depannya. Wilga menjerit frustasi. Bagaimana caranya dia menghubungi Ion kalau nomor HPnya saja dia tidak tahu? Wilga mengutuk dirinya sendiri dalam hati.

Wilga berjongkok di depan kamar Ion dengan wajah frustasi, hingga Cave tetangga bulenya muncul dan menyapa Wilga.

“Hei, what are you doing here?” Cave menatap Wilga dengan tatapan heran.

“Cave!!” Wilga berdiri dan berteriak kencang, berharap cowok bule di depannya ini tahu sesuatu. “Give me Ion’s phone number! Please!” Wilga langsung berteriak tanpa basa-basi. Cave masih menatap wajah Wilga dengan tatapan bingung, namun sesaat kemudian dia hanya angkat bahu.

“Sorry, but I don’t know..” Cave melangkah cuek dan kemudian menghilang di balik kamar apartemennya. Wilga mengacak rambutnya lagi. Dia cemas. Ternyata Ion tidak bisa dilepas begitu saja! Ion benar-benar membuatnya khawatir, dan Wilga tahu kalau Ion sangat polos dan mudah tersakiti. Wilga kembali mengusap kasar wajahnya. Perlahan rasa takut kehilangan kembali menyeruak ke dalam hatinya. Rasa yang jauh lebih besar dibanding kehilangan cinta pertamanya dulu. Wilga gemetar di tempatnya, keringat dingin mulai mengucur di dahinya. Bagaimanapun dia tak akan pernah rela kehilangan Ion! Tidak akan pernah!

Wilga belum menyerah, dan kemudian memutuskan untuk menanyakan nomor HP Ion pada Cave lagi. Cave membuka pintu apartemennya dan cuma angkat bahu.

“Sorry, but I have promised him that I can’t give his phone number to anyone…” Cave masih menolak. Wilga menjerit frustasi. Cave dengan tak tahu dirinya kemudian menutup pintu apartemennya. Wilga menendang pintu apartemen Cave kesal dan kemudian kembali ke kamarnya sendiri. Wilga menatap nanar apartemennya. Hampir setiap sudut berisi kenangan Ion. Wilga merasakan nyeri di ulu hatinya. Dia hanya terdiam, dan kemudian air matanya menetes. Air mata yang dulu pernah jatuh karena cinta pertamanya. Entah sejak kapan dia merasa hatinya menghangat saat berdekatan dengan orang lain, yaitu Ion. Padahal selama ini dia tak pernah merasakan hal seperti ini dengan cowok maupun cewek manapun.

Wilga menangis takut. Takut Ion pergi. Dia mengambil jaketnya dan memutuskan untuk mencari Ion, sampai akhirnya langkahnya terhenti saat melihat Cave sedang berlari terburu-buru di telepon. Wilga mulai curiga, apalagi saat Cave mengatakan “Honey”, sapaan yang biasa dia ucapkan pada Ion. Wilga memutuskan untuk membuntuti Cave, dan alangkah terkejutnya dia saat melihat Cave masuk ke dalam sebuah rumah sakit dan berlari cepat ke suatu kamar inap. Wilga masih setia membuntutinya, dan betapa terkejutnya dia saat melihat ada Ion di dalam kamar inap itu. Ion terbaring dengan infus yang menancap di tangannya. Ketika Wilga ingin menerobos begitu saja, dia mendengar percakapan mereka berdua.

“He was looking for you…” Cave menghembuskan nafasnya.

“You didn’t tell him anything, did you?” Ion menatap wajah Cave curiga.

“No, no…!”

“Good!” Ion tersenyum. Wilga sudah tidak betah lagi dan langsung masuk ke dalam kamar inap Ion dengan wajah garang.

“Apa-apaan ini?!! Apa maksud semua ini?!” wajah Wilga mengeras. Rahangnya terkatup kencang. Dia sangat marah! Wilga sangat takut, kalau apa yang terjadi pada Ion sama dengan apa yang terjadi pada Vano, cinta pertamanya dulu.

“Lho, Wilga kok ada di sini?” Ion menatap Wilga dengan pandangan bingung lalu terkekeh.

“Kamu pikir ini lucu, apa?!!” Wilga menjerit kesal. Ion bungkam, apalagi saat melihat wajah marah Wilga yang belum pernah dia tunjukkan di depannya.

“Maaf, aku nggak bilang apa-apa sama kamu…!”

“Cuma maaf doang?!!”

“Lalu aku harus apa?” wajah Ion menatap mata Wilga polos. Emosi Wilga perlahan memudar seketika. Wilga menjambak rambutnya sendiri dengan ekspresi kesal.

“Kamu sakit apa?! Jujur sama aku!!” Wilga membentak. Ada nada khawatir dalam suaranya. Ion menatapnya takut, namun perlahan menjawab lirih.

“Aku kena thypus…”

“Kamu nggak bohong, kan?!” wajah Wilga curiga. Ion menggeleng cepat.

“Ion nggak bohong, Wilga…! Beneran, deh! Aku kangen makan mangga, jadi aku beli mangga tiga kilo tiga hari kemaren. Habisnya aku kangen banget sama mangga Indonesia, jadinya aku beli di supermarket walaupun bukan impor dari Indonesia…” wajah Ion mengerut. Wilga melongo. Cowok di depannya ini benar-benar menguji kesabarannya. Dia mirip anak kucing yang butuh induknya kemanapun dia pergi.

“Crazy!!! You make me crazy…!!” Wilga berteriak kencang. Cave yang sejak tadi menjadi pendengar yang tak mengerti obrolan mereka langsung berkata pelan, namun menusuk.

“You told me that you never really care about Ion, but why you must angry like this?” wajah Cave menatap Wilga, memancing. Wilga terdiam, bungkam seketika. Cave tersenyum jahil dan kemudian pergi dari tempat itu seenaknya, dia cukup tahu diri untuk membiarkan mereka berdua bicara empat mata.

“Kenapa kamu marah, Wilga?” Ion mengerjap.

“Aish..! Oke, oke…! Aku takut! Aku takut!” Wilga menjawab frustasi.

“Kenapa?” Ion balas bertanya. Wilga hanya bungkam dan menggaruk kepalanya. Ion gemas, mengerucutkan bibirnya dan kemudian merebahkan dirinya, pura-pura tidur.

“Woi, woi..! Kok malah tidur?” Wilga bertanya cepat, bingung. Ion hanya terdiam dan masih menutup matanya, pura-pura tidak mendengarkan ucapan Wilga. Wilga mengacak rambutnya lagi. Frustasi. Memang sulit untuk mengungkapkan perasaannya saat ini.

“Aaaarrgghhhh….!!! Oke, oke, aku ngaku!! Aku takut terjadi sesuatu yang buruk sama kamu!!! Aku nggak mau kamu terluka, nggak mau kamu disakiti!!” Wilga menjerit frustasi. Ion terdiam, lalu memalingkan wajahnya dan air mata sukses menetes dari kedua matanya. Wilga kaget dengan respon Ion, dan perlahan dia mendekat ke arah Ion, memeluknya.

“Aku cuma cowok bodoh yang nggak peka sama perasaan kamu, aku cuma cowok bodoh…! Bahkan perasaanku sendiri pun aku masih belum paham..!” Wilga berbisik lembut. Ion terisak.

“Wilga cuek terus…! Aku takut Wilga benci aku..” Ion sesenggukan di dadanya. Saat itulah Wilga mengulurkan tangannya dan mengecup bibir Ion lembut. Jantungnya berdebar seketika. Dia memutuskan untuk mengatakan semuanya. Semua perasaannya!

“Maafin aku kalau aku selalu lari dari perasaan ini.. Aku cuma takut kalau aku kehilangan seseorang yang sangat berarti di hidupku lagi..”

“Emangnya aku berarti buat kamu? Kamu kan selalu marah-marah sama aku..!” Ion cemberut.

“Aku.. aku cuma nggak bisa ngungkapin perasaan aja, Ion..”

“Kamu nggak bilang gitu cuma karena kasihan, kan?” Ion mengerjap lucu. Wilga jadi gemas menatapnya.

“Kalau aku cuma modal kasihan sama kamu, udah dari dulu aku sok baikin kamu…”

“Berarti kamu nggak baikin aku? Nggak bakalan karena kamu nggak kasihan sama aku?” Ion merajuk.

“Ish… siapa yang bilang gitu?” Wilga menjitak kepala Ion sayang. Ion mendengus dan pura-pura kesakitan sambil berteriak-teriak kencang. Wilga melotot.

“Jangan berisik, ini rumah sakit!” Wilga menutup mulut Ion. Ion kesal dan menggigitnya. Wilga berteriak kesakitan.

“Jangan berisik, ini rumah sakit!” Ion balas berkata tajam, namun bukannya menyebalkan malah terlihat lucu. Wilga tertawa. Tawa pertamanya di depan Ion. Ion tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya. Malu.

“Mulai sekarang aku minta kamu selalu bikin rame dan sumpek hidupku..! Kalau sampe kamu bolos sehari aja, aku bakalan gedor-gedor apartemen kamu..” Wilga tersenyum lembut. Ion mengerjap, lalu balas tersenyum lembut.

“Aku bakalan lindungi kamu, nggak bakalan biarin kamu terluka lagi…! Ini janjiku…!”

“Iya…! Aku percaya…” Ion tersenyum, dan saat itulah hati Wilga menghangat seketika. Dia memeluk Ion dengan sayang, mengecup lembut keningnya. Saat Wilga menatap wajah Ion, mata Ion sudah tertutup disertai dengan dengkuran halus. Dia tertidur! Wilga tertawa geli dan kemudian memeluk Ion lebih erat lagi. Dia tak akan melepaskannya lagi! Tidak akan pernah!

***

Ion sedang berdiri di balkon apartemennya. Di tangan kirinya terdapat palet dengan beberapa cat yang telah mengisi lubang-lubangnya, sementara di tangan kanannya terdapat kuas. Bibirnya bernyanyi pelan, sebuah lagu soundtrack yang berjudul ‘Let It Go’. Perlahan pintu apartemennya terbuka, dan menampakkan wajah Wilga yang sedang tersenyum sementara di tangan Wilga terdapat boneka gajah yang lucu. Dia melangkah pelan menghampiri Ion yang masih belum sadar akan kedatangan Wilga. Ion terus bernyanyi dengan suara lembutnya, berbeda jauh dengan suara yang pernah dia tunjukkan malam itu. Suaranya benar-benar indah! Selain itu, lukisan Ion benar-benar luar biasa. Indah, sama indah dengan suaranya. Perlahan Wilga tersenyum miris. Selama ini dia tidak tahu kalau di balik sikap ceria dan sok bodohnya itu Ion adalah pribadi yang luar biasa. Pintar menyembunyikan jati diri yang sebenarnya. Sosok cowok luar biasa dalam sikap polos dan cerianya. Namun Wilga juga tahu, mulai sekarang dan seterusnya Ion akan jujur pada dirinya sendiri.

“Sayang…” Wilga mengecup pelan kening Ion dari samping. Ion berteriak kaget dan melongo, apalagi saat melihat Wilga datang ke apartemennya dengan tangan yang menggenggam sebuah boneka gajah yang lucu.

“Aku kaget, kenapa Wilga nggak bilang kalo datang?”

“Kejutan! Hmm… suara kamu bagus, ya? Lukisan kamu juga indah..” Wilga menoleh ke arah lukisan Ion. Lukisan pelangi. Wilga jadi ingat kembali malam saat dia harus bernyanyi untuk Ion. Dia hanya tersenyum geli.

“Mulai sekarang, aku janji! Aku nggak mau sembunyi lagi dari jati diri Ion yang sebenarnya.. Kalau sedih, bilang sedih. Kalau seneng, bilang seneng. Kalau marah, bilang marah. Biar Wilga tahu, trus Wilga ikut sedih, biar Wilga ikut seneng, biar Wilga takut kalau aku marah..”

Wilga tersenyum, lalu memeluk sayang Ion.

“Ion juga harus janji, kalau Ion harus bilang sayang kalau emang sayang sama Wilga…” Wilga mengecup lembut kening Ion. Ion mengangguk pelan dalam pelukan Wilga.

“Ion sayang Wilga..!” Ion berbisik pelan sambil tersenyum, dan perlahan air matanya menetes pelan.

“Lho, kok nangis? Ion udah janji, kan kalau sedih harus bilang sedih…” Wilga menatapnya kaget.

“Ini tangisan bahagia, Wilgaaaa…!” Ion membenamkan kepalanya di dada Wilga. Wilga tersenyum, lalu tertawa kencang. Mentari senja di ufuk barat menjadi saksi di antara mereka. It’s just between you and him!

END – Next to another sequel

Separuh Sayap (Sequel “Sayap Baru”)

Hancur adalah nama lain dari sebuah kelahiran kembali..

            Ya, terlahir kembali sebagai sebuah kehancuran..

Wilga menarik kopernya memasuki sebuah apartemen mewah di sebuah kota sibuk di Inggris. London. Hari pertamanya menapaki sebuah kehidupan baru, tanpa asrama, tanpa cowok-cowok berkulit sawo matang, dan makanan khas Indonesia lagi. Wilga membuka lemari bajunya dan terdiam. Dia memasukkan baju-bajunya dalam lemari, kemudian menutupnya. Setelah merapikan bajunya, dia menata buku di sebuah meja belajar di samping tempat tidur king size-nya. Perlahan dia beringsut masuk ke dalam selimut dan mencoba memejamkan mata. Namun, belum lama matanya terpejam sebuah email masuk ke ponsel smartnya.

“Aku nggak sanggup kalau harus meneruskan hubungan ini bersama dengan cowok yang bahkan belum bisa melupakan cinta pertamanya yang udah meninggal. Wilga, ayo kita putus!”

Wilga menatap datar layar ponselnya. Dia menghembuskan nafas gusar, lalu meletakkan ponsel itu begitu saja. Perlahan dia meraih ponselnya kembali dan mengetik balasan untuk si pengirim email.

“Oke, kita putus!”

            Selesai! Sama seperti kisah cintanya kemarin-kemarin. Kisah cinta yang sangat hambar, karena Wilga tak pernah menghendakinya. Kisah cinta bersama dengan cowok-cowok yang bahkan tak pernah Wilga cintai. Sudah belasan cowok yang dia kencani setelah kepergian “dia” dalam hidupnya. Cowok satu-satunya yang membuat jantungnya berdegup kencang, cowok satu-satunya yang membuat jantungnya seakan berhenti, dan cowok satu-satunya yang membuat hatinya seakan mati. Hatinya telah hancur bersama puing-puing kisah penuh tangis bersama cinta pertamanya itu. Bahkan hingga saat ini, dia tak akan pernah mampu mencari pengganti “dia” di hatinya, di ingatannya, maupun di hidupnya.

Tingtong!

Wilga mengumpat sebal. Baru hari pertama saja sudah ada tamu. Dia melipat wajahnya dan beranjak membuka pintu apartemennya tanpa mengintip siapa yang datang dari aplikasi DoorBot di ponsel smartnya.

“Hi, hello…!” seraut wajah asing dengan mata biru dan rambut pirang langsung menyambutnya di depan pintu.

“May I help you?” suara Wilga terdengar malas. Malas untuk berbasa-basi.

“I just… errrr… want to introduce my self to new neighbour…”

“It’s okay! Don’t mention it!” suara Wilga terdengar malas.

Basa-basi yang tidak perlu itu sudah cukup membuat Wilga badmood saat ini. Cowok bule dengan rambut pirang dan mata biru itu mengangkat bibirnya, tersenyum. Tidak biasanya orang asing menyapa tetangga baru seperti itu, kecuali memang dia adalah ibu-ibu tukang gosip di perumahan elite!

“Hi, I’m Cavin Corner. Call me Cave..!”

“Wilga!” Wilga menyambut ogah-ogahan uluran tangannya. Bahkan Wilga masih enggan mempersilakan tamu itu masuk ke dalam apartemennya. Hati-hati terhadap orang asing, Wilga! Lagipula dia tak akan mempermasalahkan orang asing yang akan menggunjingnya karena mereka tak akan melakukannya.

“From Indonesia, right?”

“Right..” Wilga hanya menjawab seadanya. Saat cowok bule itu ingin meneruskan ucapannya, sebuah suara terdengar dari pintu apartemen di depan kamarnya. Suaranya kecil, mirip seperti suara anak SMP yang masih belum mengalami masa pubertas.

“Ion nggak mau pulang, ah! Nggak mau pokoknya!” suara itu terdengar kencang, merajuk. Wilga yang merasa masa bodoh dengan semua itu mau tak mau ikut menoleh saat mendengar ada orang Indonesia juga yang tinggal di apartemen ini.

Seorang cowok berdiri di depannya. Wajahnya khas orang Indonesia dengan mata hitam legam, kulit putih kecoklatan, dan juga rambut lurus pendeknya. Hidungnya sedikit mancung dengan alis hitam tebal dan jangan lupa lesung pipi itu! Membuatnya tampak seperti anak SD.

“Nggak mau! Ion udah berhasil jadi murid SMA di sini! Tesnya susah, masa harus balik lagi ke Indonesia? Nggak mau, ah!” cowok itu menggeleng kencang. Wilga menatap tetangga barunya itu dengan tatapan aneh. Baru kali ini dia melihat seorang anak SMA dalam tubuh seorang cowok SMP.

Cowok itu memasukkan HPnya ke dalam saku saat dia telah selesai berbicara dengan seseorang di telepon. Sesaat dia menoleh ke arah Wilga dan Cave lalu tersenyum ceria ke arah Cave.

“Cave…!” dia melambai riang seperti seorang anak SD yang tak sengaja bertemu temannya di jalan.

“Hi, Honey…! I miss you..” Cave melangkah ke arahnya, lalu mencium pipinya mesra. Wilga menatap mereka keki. Jadi, cowok SMP itu pacarnya. Bagaimana bisa seorang Cavin Corner yang keren itu bisa jatuh cinta dengan cowok berbadan SMP, usia SMA, dan berkelakuan mirip anak SD?

“Don’t call me like that!” cowok imut itu mendorong wajah Cave yang sudah mupeng ingin mencium bibirnya.

“I’m your bee. Because you are honey…”

“Nooo…!” suara cemprengnya kembali menusuk telinga Wilga. Dia memutar bola matanya malas dan beranjak masuk ke dalam apartemennya. Namun sebelum sempat menutup pintu, sebuah tangan menahan pintu itu. Wilga menoleh dan mendapati wajah cowok imut itu di depan wajahnya.

“Orang Indonesia juga, ya?” dia mengerjap lucu.

“Iya…”

“Oh, ya? Dari kota mana? Trus, ke sini buat apa? Kerja? Kuliah?”

“Aku masih SMA..”

“Iya? Wah, sama, dong…! Namaku Leon, panggil Ion aja, ya! Nama kamu siapa?” dia tersenyum manis dengan wajah ingin tahu. Dia mengulurkan tangan kecilnya di depan Wilga.

“Wilga!” Wilga menyambut uluran tangannya dan kemudian menarik lagi. Dia hanya menjabat, tidak.. hanya menyentuh tangannya sekilas.

“Wilga juga masih SMA, kan ya? Boleh aku panggil Wilga aja?” dia berteriak antusias.

“Terserah!”

“Oke, Wilga..! Selamat datang di London! Oh, ya ngomong-ngomong kenapa Wilga sekolah di sini?” Ion bertanya cepat. Wilga menghembuskan nafasnya kasar. Cowok ini benar-benar orang yang berisik!

“Cowok kamu?” Wilga ogah menjawab pertanyaan Ion dan menunjuk Cave untuk mengalihkan pertanyaannya. Kalau dia jawab bisa-bisa dia akan terus bertanya.

“Bukan, ah! Dia aja yang ngaku-ngaku! Dia bilang suka sama aku!” Ion tersenyum manis. Cave yang sedari tadi mengernyit bingung karena tak mengerti obrolan mereka tiba-tiba langsung menarik lengan Ion dan merengkuh tubuh kecilnya dalam pelukan.

“Cave..! What are you doing? Let me go!!” cowok imut itu ngamuk-ngamuk. Sebenarnya dari tadi Wilga ingin sekali menjitak kepalanya dan menjahit mulut kecil bawelnya itu. Namun dia menahan diri untuk tidak berulah di hari pertamanya.

Cave melepas pelukannya dan menghadapkan wajah si imut di depannya. Dia menatap Ion seolah Ion adalah miliknya.

“I never let you go..! Until you find a good boyfriend…” Cave menatap Ion dengan tatapan sayang.

“I got it…! I got it…!” Ion menarik tangan Cave dan mengusap-usap pipinya. Wilga memicingkan matanya dan berniat untuk menutup pintu, namun si imut sudah berhasil menerobos masuk ke dalam apartemennya.

“Cave bukan cowokku, kok Ga..! Dia sahabatku! Dia Cuma protektif aja, soalnya kemaren itu aku udah dimanfaatin sama cowok-cowok jahat, jadi dia berusaha buat nahan aku biar nggak sama cowok-cowok nyebelin lagi.. terus…”

“Aku nggak tanya!” Wilga memotong ucapan Ion dengan ketus. Bukannya marah, Ion malah balik terkekeh. Ion terus saja bercerita dengan ceriwis, sementara Wilga hanya memijat pelipisnya pusing. Dia sudah lelah dengan perjalanan dalam pesawat tadi, sekarang malah harus mendengar celoteh cowok imut ini. Suara berisiknya saja sudah mengalahkan suara mesin pesawat! Cih!

Ion terus-terusan bercerita dan berceloteh sementara Wilga menanggapi dalam diam. Dia melanjutkan aktivitasnya yang terbengkalai sejak tadi. Menata bukunya, merapikan bajunya, menata alat makan, memasak mie instan… sampai Ion ikut duduk di depannya dan menelan air liurnya menatap mie instan buatan Wilga.

“Kamu mau?” awalnya Wilga hanya basa-basi, namun Ion mengangguk dengan semagat dan langsung menarik mangkuk di depan Wilga. Ingin rasanya dia mengumpat kesal dengan kelakuan cowok labil di depannya ini!

***

Hari-hari Wilga masih diisi oleh celoteh dan kehadiran Ion di apartemennya. Setiap hari cowok imut itu selalu mengunjungi apartemennya dengan alasan beragam. Mulai dari alasan dia takut petir, kamar mandinya tidak ada bathupnya, dia kesepian tanpa rival main game, ada suara aneh di kamarnya, dan lain sebagainya. Sesekali Ion menginap di kamarnya dan tidur berdua dengannya. Gaya tidur Ion yang dibilang hiperaktif itu cukup merepotkan Wilga. Dia memeluk Wilga dengan kaki mungilnya dan mengusap-usap ujung hidungnya di punggung Wilga.

“Wilga…” suara Ion memanggil parau saat itu. Wilga enggan menjawab. Matanya yang mulai mengantuk perlahan terbuka.

“Hmmm…”

“Kamu tahu, kan kalau aku sukanya sama cowok…?”

“Udah dari awal ketemu juga ketahuan!”

“Kamu nggak benci aku, kan?”

“Kenapa?”

Ion terdiam tak menjawab pertanyaan Wilga. Tak lama kemudian dengkuran halus terdengar dari belakang tubuh Wilga. Wilga menoleh ke belakang dan melihat Ion telah terlelap. Dia menghembuskan nafas kasar dan melepaskan kaki Ion dari perutnya.

Mata Wilga terpejam sesaat, namun tiba-tiba sebuah nafas keras terdengar. Ion sedang gusar dalam tidurnya. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Tubuhnya mengejang dalam tidurnya. Nafasnya terus memburu, bibirnya meracau tak jelas. Wilga bangkit dari tidurnya dan menyentuh pundak Ion, namun Ion masih sibuk dengan mimpi buruknya.

“Woi..! Bangun…!” Wilga mengguncang bahu Ion. Ion tersentak dan membuka matanya. Air mata telah menetes lewat sudut matanya. Dia bangkit dan langsung memeluk Wilga erat dengan tubuh gemetar. Awalnya Wilga ingin menolak, namun melihat kondisi Ion seperti itu, dia merasa tak tega. Dia menepuk-nepuk kepala Ion lembut.

“Mimpi apa?” Wilga bertanya pelan.

Ion mengangkat wajahnya dari dada Wilga dan mengerucutkan bibirnya.

“Aku mimpi ada sosis besar yang jatuh di depanku. Trus sosis itu bilang ‘makan aku.. makan aku…’ trus dia ngejar aku…! Aku kan nggak suka sosis!”

Wilga menatap keki wajah Ion. Jadi karena itu? Hahaha…! Dia merasa Ion sudah membodohinya. Harusnya dia tahu kalau Ion adalah cowok kekanakan yang membuat harinya berisik! Kenapa dia masih bisa dibodohi olehnya? Hah…! Wilga hanya bisa menelan air liurnya paksa dan memijat pelipisnya.

“Udah selesai, kan? Sana tidur!” Wilga mendorong dahi Ion. Namun Ion masih keukeh berpegangan pada lengan Wilga, tetap memeluknya.

“Kalau sosis itu datang lagi, gimana?” tanyanya cemas.

“Aiish..!” Wilga masih berusaha mendorong dahi Ion agar jatuh ke kasurnya, namun Ion kembali merengkuh tubuhnya dan kemudian dia telah terlelap kembali dalam pelukan Wilga. Anak ini memang benar-benar merepotkan!

***

Wilga baru pulang dari sekolahnya dengan wajah lelah. Hari ini hari yang cukup menyita tenaganya. Tugasnya menumpuk tak terurus, belum lagi kegiatan yang wajib dia ikuti di sekolah, juga segala macam urusan membuatnya merasa lelah hari ini. Dia ingin tidur sejenak di apartemennya yang nyaman. Namun sepertinya dia tidak bisa melakukannya, karena si bule pirang tetangganya itu sedang berdiri di depan pintunya, menghadangnya.

“What happend?” Wilga bertanya malas.

“Just wanna make a little chat..” Cave mengangkat bahunya.

“I’m busy now..!”

“This is about Ion..!”

“What the hell about him? I never really care about him! He just a little shit of my life! Annoying!” emosi Wilga meledak seketika. Dia sudah cukup lelah dengan semua kegiatan hari ini, dan sekarang ada orang yang memancingnya dengan percakapan interogasi serupa. Ayolah, nanti saja! Saat ini dia hanya ingin tidur di kasurnya yang empuk!

“Jadi selama ini aku mengganggu hidup kamu, ya Ga? Maafin aku…! Selama ini aku nggak pernah sadar kalau keberadaanku di sekitar kamu udah mengganggu.. Maaf…! Aku nggak bakalan ganggu kamu lagi! Aku janji…” suara cempreng yang biasanya berisik itu berubah menjadi sedih. Ion sedang berdiri di belakangnya dan mendengar ucapannya barusan! Wilga menatap wajah Ion, dan perlahan hatinya berkedut sakit melihat ekspresi yang tidak pernah Ion tunjukkan di depannya itu.

“Aku nggak bermaksud… Kamu salah paham, Yon…” suara Wilga terdengar bergetar saat memanggil namanya. Selama ini dia tak pernah memanggil nama Ion. Dia hanya berkata “Heh!”, “Hoi!”, “Kamu!” dan tidak pernah sekalipun menyebut nama Ion saat memanggilnya ataupun saat berbicara dengannya.

“Nggak apa-apa…! Aku ngerti…!” Ion berbalik dan pergi dari tempat itu. Saat kaki Wilga melangkah hendak menyusulnya, tangan Cave mencegahnya. Dia menarik lengan Wilga dan mengatakan kalau mereka harus bicara berdua.

***

Ion menunduk di sebuah halte bis dengan wajah sedih. Air mata sudah jatuh dan mengalir di pipinya sejak tadi. Orang-orang di sana masa bodoh dengan keadaan Ion yang sedang menangis itu. Dia berjongkok di sudut halte dan mengucek matanya seperti anak kecil yang sedang tersesat. Perlahan tangannya dingin. Dia gemetar seketika. Kenangan masa lalunya yang pahit mulai terekam jelas di ingatannya. Dia menutup telinganya panik. Dalam sekejap dia berdiri. Nafasnya mulai tersengal-sengal. Dia berlari dari tempat itu, berlari tanpa tujuan yang jelas.

Sementara itu, Wilga dan Cave juga ikut mencarinya. Mereka berlari mencari keberadaan Ion. Wilga mengutuk semua ucapan dan sikapnya selama ini pada Ion. Mengapa? Karena dia baru tahu kenyataan pahit tentang masa lalu Ion dari Cave tadi. Cave sengaja menceritakan semuanya pada Wilga, karena untuk pertama kalinya Ion percaya pada orang lain, yaitu Wilga.

Ion bukan cowok lemah seperti ini sebelumnya. Dia sangat kuat, selalu berusaha keras untuk mandiri di negeri orang. Walaupun keluarganya termasuk keluarga yang berada, namun dia tidak ingin memanfaatkan semua fasilitas dari orang tuanya. Dia ingin mewujudkan mimpinya dengan kerja kerasnya sendiri. Walaupun tubuhnya kecil, namun semua orang menghormatinya karena sikapnya yang tegas dan juga baik hati. Namun, sifat seperti itu bukan jaminan semua orang menyukainya. Ada saja orang yang merasa iri dengannya dan akhirnya merencanakan perbuatan jahat pada Ion. Ion dicegat dan lima orang cowok melakukan perbuatan asusila padanya secara bergantian. Tubuhnya dijamah dan diperlakukan keji. Ion menjerit, menangis, sampai akhirnya pingsan. Untung saja waktu itu Cave datang menolongnya.

Tubuh Ion sangat lemah waktu itu. Dia hampir kehilangan darah karena pendarahan dari lubang anusnya. Tentu saja yang paling menyakitkan adalah trauma yang dideritanya. Sejak saat itu juga Ion berubah. Berubah menjadi sosok yang penakut, ceriwis, dan takut dengan orang asing. Dia pindah sekolah dan apartemen setelah itu, memutus semua kontaknya dengan orang-orang yang pernah dia kenal sebelumnya.

Tubuh Wilga menegang seketika mendengar cerita Cave. Dia masih belum bisa percaya bagaimana perasaan sakit dan takut yang ada dalam diri Ion sebenarnya. Ion sangat pintar menutupi itu semua dengan sikap ceriwis dan cerianya. Perlahan hati Wilga seperti diiris-iris oleh pisau. Entah bagaimana dalam hatinya muncul sebuah rasa ingin melindungi Ion. Tak akan dia biarkan seorang pun menyakitinya. Atau bahkan… sekedar menyentuhnya!!

Wilga terus berlari. Dia berpencar sesuai dengan instruksi Cave tadi. Dia terus berlari sampai dia sampai di sebuah lorong gelap. Terdengar isakan dari lorong itu. Dia hafal suara siapa itu!

Perlahan Wilga mendekati tempat itu. Sesosok tubuh mungil meringkuk di sudut lorong. Tubuhnya bergetar, sementara tangannya menutup telinganya. Wilga mendekatinya, menyentuh pundaknya. Ion menegang dan menepis tangan Wilga. Dia beringsut ketakutan ke depan. Wilga semakin mendekat ke arahnya dan berbisik.

“Ini aku…! Maafin aku…! Aku janji bakalan lindungi kamu, dengan nyawaku sekalipun…” Wilga merengkuh tubuh mungil itu dalam pelukannya. Ion berbalik dan langsung memeluk leher Wilga dan menangis kencang. Wilga menepuk punggung Ion lembut dan kemudian menggendong tubuhnya ala bridal style. Perasaannya menghangat seketika.

Sepertinya dia sudah menemukan siapa yang harus dia lindungi kali ini! Untuk pertama kalinya setelah kepergian “dia”, Wilga menemukan alasannya hidup. Dia tahu ini salah, namun dia juga tahu kalau separuh sayap dalam pelukannya inilah yang dia cari selama ini setelah kepergian cinta pertamanya..

Separuh sayap yang akan mengubah hidupnya mulai hari ini…!

END – Next to another sequel

Sayap Baru (Sequel “Sayap-sayap yang Hilang”)

Hujan rintik di luar sana semakin deras. Suasana dingin mulai menusuk kulit. Sebagian orang masih beraktivitas di luar sana, sementara anak-anak sekolah masih diam tak bergeming di kelas masing-masing, mendengarkan suara guru mereka mengajar diantara riuhnya guyuran air dari langit. Sebuah tangan asyik mengetuk jendela mobil yang kini telah masuk pelataran sebuah asrama putra. Dia diam saja, sementara jarinya mengetuk dan terus mengetuk, menampakkan kekesalan dan penolakan keras yang hanya akan berakhir dengan pelototan tak setuju. Mobil yang membawanya kali ini telah memasuki parkiran. Dia masih diam tak bergeming, mengetuk-ngetukkan jarinya di kaca mobil dengan ekspresi malas.

“Kamu lari duluan aja ke dalam. Administrasi udah diurus. Barang-barang kamu biar dibawa sama pesuruh asrama..” suara Ayahnya perlahan membuyarkan ketukannya di kaca mobil. Dia menoleh, menatap Ayahnya dengan wajah protes.

“Sejak kapan Vino setuju sekolah di sini?” wajahnya mengeras. “Jangan samakan Vino sama Vano…” sebuah nama yang muncul dari mulutnya berhasil membungkam mulut Ayahnya.

“Dengar, ini nggak ada hubungannya sama Vano…”

“Lalu? Kenapa Papa nyuruh Vino balik dari Australia dan malah maksa Vino sekolah di sekolah yang sama kayak Vano dulu..?”

“Dengar Vino…”

“Karena Papa masih merasa bersalah atas meninggalnya Vano, kan?” suara Vino serak di tenggorokannya. Dia tersenyum getir. Ayahnya terdiam. Anak bungsunya telah mengatakan hal pahit yang dia simpan selama ini.

“Vano emang saudara kembar Vino, tapi itu bukan berarti kami sama…” Vino keluar dari mobil, melangkah cuek menuju sebuah gedung besar di depannya, sementara Ayahnya hanya menatap punggung anaknya dan kemudian menyusulnya untuk mengurus administrasinya.

Hari ini juga Vino resmi menjadi seorang murid baru di sebuah sekolah khusus putra yang juga memiliki asrama. Bukan hanya itu saja, dia juga resmi menyandang status sebagai murid pindahan dari Australia yang kini menempati kamar saudara kembarnya, Vano. Semua masih sama. Baju Vano masih tertata di lemarinya, foto-foto Vano masih terpajang manis di meja belajarnya, selimut Naruto favorit saudaranya itu, dan semuanya masih tetap sama.

“Lihat, karena loe sekarang gue yang harus gantiin loe di sini! Loe bilang loe kakak gue dan bakalan selamanya lindungi gue…! Cih, penipu, loe…!” suara Vino tersendat menatap foto Vano, saudara kembarnya. Kakaknya.

Ada rasa sakit dalam hatinya saat menatap wajah Vano yang sedang tersenyum dalam foto itu. Vino mengepalkan tangannya, melangkah pelan ke arah foto itu. Dia ingat, dia menolak pergi ke pemakaman Vano hari itu. Dia ingat, dia menolak untuk kembali ke Indonesia. Alasannya hanya satu : dia marah. Marah pada Vano.

“Loe kembaran gue, kan? Apa yang loe rasain harusnya gue rasain juga. Loe sakit, gue juga sakit! Gimana gue bisa maafin loe kalo loe nggak pernah cerita ke gue kalo loe sakit??! Loe anggap gue apa, hah?!!” Vino meracau, menatap foto Vano. Air mata mulai mengalir menjatuhi pipinya. “Kakak nggak tahu gimana rasanya jadi gue! Gue harus rela pergi ke Australia karena loe bilang kalo di sana gue bakalan belajar jadi dokter yang hebat, biar bisa nyembuhin orang yang sakit. Tapi sebelum gue nyembuhin loe, loe pergi dulu…! Gue benci dan kecewa sama loe…!” Vino menangis lebih kencang. Dia menunduk, meraih foto di depannya dan mencium sayang foto itu. Dia sangat menyayangi Vano, saudara kembarnya. Kemanapun mereka pergi, mereka selalu berdua. Saat Vino sakit, Vano akan selalu menemaninya. Walaupun pembawaan mereka jauh berbeda, namun mereka saling menyayangi satu sama lain.

Vano termasuk orang yang ceria, senang bergaul dengan siapapun, hobinya berjalan-jalan, selalu semaunya sendiri, dan juga bandel. Namun, dia adalah orang yang sangat peka, berjiwa sosial tinggi, dan selalu bersemangat. Berbeda dengan Vino yang agak pendiam, sibuk dengan dunianya sendiri, malas berdebat, dan sangat cuek. Namun satu hal yang sangat dia inginkan : dia ingin menjadi dokter yang hebat, yang bisa membantu Vano kalau dia sedang ada di tempat bencana.

Yah, itulah masa lalu. Vano pergi lebih dulu sebelum melihat Vino menjadi seorang dokter dan menyembuhkan penyakitnya, penyakit yang juga baru diketahuinya akhir-akhir ini setelah Vano meninggal. Awalnya Ayahnya mencoba menyembunyikan fakta itu, namun setelah melihat beberapa catatan kesehatan Vano, akhirnya Vino mengerti. Dia marah, dan menyalahkan Vano mengapa dia harus pergi terlebih dahulu karena kecelakaan itu.

***

Vino mengucek matanya dan menguap. Hujan di luar sudah reda. Dia melirik jam dinding di atas pintu. Pukul tiga sore. Tiga jam dia tertidur. Dia bangkit dari kasurnya dan menatap tiga buah koper di sudut ruangan. Perlahan dia mengacak rambutnya. Rasa malas kembali membuatnya bergulung di tempat tidurnya. Dia malas kalau harus keluar dari kamar dan memperkenalkan diri dengan penghuni asrama yang lain. Dia bukan Vano yang langsung bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Sebuah ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. Dia menghembuskan nafas kesal. Kenapa juga harus ada orang sok kenal sok dekat yang mengajaknya bicara di hari pertama ini? Dia mengacak rambutnya gusar dan masih ogah beranjak dari kasurnya.

“Siapa?” dia bertanya malas.

“Eh, aku dari kamar sebelah…! Itu.. ehm.. kamu.. anak baru, ya…?” sebuah suara serak bertanya dari luar kamarnya.

“Iya.. kenapa?”

“Eh.. eng.. enggak…” suara itu kembali menjawab serak. Sebenarnya Vino ogah beranjak, namun sepertinya orang di luar sedang ingin melihat tetangga barunya. Vino melangkah, menarik pengait, dan membuka gagang pintu. Wajah yang dilihatnya pertama kali adalah wajah seorang cowok seusianya, dengan wajah cakep namun ekspresi matanya sangat sedih dan sendu. Dia seperti seseorang yang kehilangan semangat hidup. Dan yang dilihatnya sekarang, mayat hidup itu sedang menatapnya dengan ekspresi kaget, bengong, dan bibirnya bergetar, tangannya perlahan menggenggam pergelangan tangan Vino dan air mata jatuh di pipinya.

“Kamu… kamu… kamu…” suara itu bergetar, lalu dalam sekejap menarik Vino dalam pelukannya. Vino berontak. Dia menatap wajah cowok itu dengan tatapan bingung.

“Loe siapa?” Vino bertanya dingin.

“Va.. Vano…”

“Gue bukan Vano! Vano itu kakak gue. Gue Vino, saudara kembarnya…!” Vino menjawab cepat. Tangan kanannya meraih gagang pintu dan mencoba menutup pintu secepat yang dia bisa, namun sayangnya cowok itu terlebih dulu menahannya.

“Aku mohon, biarkan aku masuk…!”

“Buat apa? Loe nggak diundang…!”

“Aku mohon…”

Melihat ekspresi memelas yang ditunjukkan oleh cowok itu Vino membuka lebar pintu kamarnya dengan malas. Cowok itu masuk ke dalam kamar yang kini telah menjadi milik Vino itu.

“Namaku…”

“Gue nggak tanya!” Vino menjawab ketus.

“Egi.. Panggil aku Egi..”

Vino menatap wajah Egi yang juga sedang menatapnya. Wajahnya membeku seketika. Tatapan Egi begitu dalam, seolah sedang menatap seseorang yang sedang dia rindukan.

“Loe ada hubungan apa sama kakak gue?” Vino bertanya tajam begitu melihat Egi sudah duduk di atas kursi belajarnya dan menyentuh foto Vano.

“Aku.. kangen dia…”

“Gue nggak tanya perasaan loe!”

“Aku.. sayang dia…”

“Gue nggak tanya… eh..? Apaaa..??? Loe sayang sama kakak gue sebagai apa? Jangan bilang kalo loe.. loe…” suara Vino tercekat di tenggorokan.

“Aku cinta sama kakak kamu, sama seperti cinta seorang cowok ke ceweknya..”

“Jangan samakan cinta loe sama cinta mereka!”

“Apa cinta pernah salah?”

“Loe yang salah!!” Vino membentak, emosi semakin menguasainya. Dia menatap wajah Egi dengan tatapan marah dan langsung keluar dari kamar sambil membanting pintunya. Sementara Egi menatap punggung yang menjauh itu dengan hati sakit dan perih.

***

Hari-hari berlalu setelah itu. Setiap hari di sekolah Vino selalu menyendiri. Dia seolah memberikan tembok pembatas yang sangat tebal agar tak ada yang mendekatinya. Semua orang selalu membicarakannya sejak pertama kali masuk sekolah. Mereka selalu membandingkan Vino dan Vano. Vino masa bodoh dan sibuk dengan dunianya sendiri. Dunia yang dia bangun sejak kecil. Dunia tempatnya berada suatu hari nanti. Dunia tempat yang dia janjikan bersama Vano. Dia hanya tertarik dengan buku di tangannya. Sebuah buku lama dan usang pemberian Vano dulu, buku kedokteran.

Semua orang yang di sana terus menggunjing dan membicarakan sifat Vino, sementara Egi terus menatap Vino. Rasa kangennya seolah terobati begitu melihat wajah Vino yang mengingatkannya pada Vano. Bukan hanya menatap saja, namun Egi selalu membuntuti kemanapun Vino pergi. Kali ini dia tak ingin kehilangan sosok Vano untuk yang kedua kalinya lagi. Vino sebenarnya tahu apa yang Egi lakukan, namun dia merasa masa bodoh dan tak peduli dengan apa yang dilakukan Egi selama itu tidak mengganggu urusannya.

Awalnya Egi hanya menatap Vino, mengikuti Vino kemanapun dia pergi, mengawasi Vino dari jauh, dan hanya sekedar melihatnya. Namun, hati Egi tidaklah sekuat itu. Dia mengingat Vano kembali, menahan rasa sakit karena merindukan Vano di hidupnya. Egi semakin kalut, karena melihat Vino yang mirip Vano, dan itu sukses membuatnya semakin merasa frustasi. Dia mencoba untuk melupakan Vano dengan pelarian lain. Bertengkar dan balap motor adalah hal yang dilakukan Egi saat ini.

Setiap hari Egi pulang ke asrama saat larut malam dengan melompat jendela, wajah babak belur, dan wajah sempoyongan. Vino mengetahui kondisi Egi saat ini, namun dia tidak mau ikut campur, karena itu sebenarnya bukan alasannya. Sampai suatu malam, terdengar suara gaduh dari kamar Egi. Vino yang selalu terpaku dengan bukunya merasa terganggu dengan suara itu. Awalnya dia mencoba membiarkannya dan masa bodoh dengan apa yang dilakukan oleh Egi. Namun lama-lama dia terganggu juga. Dia bangkit dari duduknya dan langsung menuju pintu kamar Egi. Dia mengetuk pintu kamar Egi, namun tak digubris. Kesabarannya sudah habis. Vino langsung menggedor pintu kamar Egi dan berteriak kencang.

“Kalo loe mau bikin keributan, jangan disini!! Ganggu orang tau, nggak?!!” Vino marah. Perlahan suara di dalam kembali tenang, diikuti oleh pintu kamar yang terbuka dengan cepat. Sebuah tangan tiba-tiba menarik lengan Vino masuk ke dalam kamar, dan pintu itu kembali tertutup. Tidak, terkunci tepatnya.

“Apa…?” Vino menatap wajah Egi datar. Ada darah di ujung bibir, hidung dan dahi Egi. Naluri Vino yang selalu mempelajari ilmu kedokteran sejak kecil akhirnya muncul. Vino menarik tangan Egi dan menyuruhnya duduk di tepi ranjangnya. Vino beranjak ke kamarnya untuk mengambil obat, namun tangan Egi menahannya.

“Gue mau ambil obat..”

“Aku nggak mau kamu pergi… Nggak mau kamu pergi lagi…”

“Terserah!” saat Vino akan kembali ke kamarnya, Egi mengikutinya. Dia duduk di tepi ranjang dan menatap punggung Vino yang sedang mengambil kotak obat dari dalam lacinya. Vino duduk di depan Egi dan mulai mengobatinya dalam diam, sementara Egi sibuk menatap wajah Vino. Ada sesuatu yang lain pada diri Vino yang tak dipunyai oleh Vano. Entah itu apa. Vano memang ceria, secerah mentari di pagi hari yang menyinari hidupnya. Tapi entah kenapa melihat Vino seperti melihat sebuah bulan yang kesepian tanpa bintang di sampingnya. Bulan itu membisu, indah, sendirian, tapi menerangi malam yang kelam.

“Gue kasih tahu satu hal sama loe…” suara Vino terdengar tegas. Egi yang sedang menatapnya membuka mulutnya, ingin bertanya. Namun begitu melihat ekspresi keras Vino, Egi memilih untuk kembali bungkam.

“Gue bukan Vano, dan loe nggak usah terganggu sama kehadiran gue…!” Vino berucap tegas. Rahangnya mengeras. Ditatapnya wajah Egi yang juga sedang menatapnya.

“Aku tahu.. maaf… tapi aku nggak bisa…”

“Loe bukan nggak bisa, tapi nggak mau…!” Vino membentak. Egi bungkam seketika. “Gue bukan Vano…! Gue bukan dia..! Gue bukan Vano, dan jangan sekalipun loe samain gue sama dia!!” Vino menjerit kencang.

“Tapi….”

“Udah berapa kali gue bilang?! Gue bukan dia! Gue bukan dia!” setetes air mata turun perlahan ke pipi Vino. Egi kaku seketika. Tiba-tiba hatinya merasa sakit melihat air mata itu. Egi menggenggam erat jemari Vino. Vino memalingkan wajah dan mengusap kasar air matanya. Egi ikut menghapus air mata itu dan perlahan mencondongkan wajahnya, mencium air mata itu di sudut mata Vino. Vino terkejut dan menoleh ke arahnya. Egi balas menatapnya. Ada rasa berbeda saat dia menatap Vino. Baik, seandainya di depannya ada Vano dan Vino dan dia disuruh memilih, mungkin dia akan memandang mereka sejenak dan memilih… Vino. Dia tidak tahu kenapa pikiran itu terbersit di benaknya. Dia bukannya mengkhianati Vano, tapi dia tahu kalau Vano hanya menganggapnya tak lebih dari seorang sahabat. Vano lebih mencintai Wilga, cowok yang kini sedang belajar di luar negeri itu…

“Gue bukan Vano…” suara Vino terdengar kembali. Kali ini lebih lirih.

“Kamu Vino…!”

“Gue nggak bisa mencintai loe kayak Vano cinta ke loe…”

“Aku nggak pernah berharap kamu jadi Vano…”

“Loe nganggap gue Vano…!”

“Harus dengan apa aku buktiin ke kamu?” wajah Egi menatapnya dengan wajah sedih. Vino balas menatapnya dengan tatapan tajam.

“Baik, gue bakalan ngajuin satu syarat sama loe…! Selama tiga hari kita jalan. Tapi saat itu loe harus bersikap kalo loe lagi jalan sama Vino, bukan Vano. Setelah itu, loe harus pergi dari hidup gue…!”

“Kenapa syaratnya kayak gitu? Kamu mau narik ulur hatiku?” Egi protes.

“Nggak ada permainan hati disini!”

“Tapi aku sayang sama kamu…!”

“Vano yang kamu cintai..!”

“Aku bisa buktiin!”

“Cih! Itu karena Vano udah nggak ada…! Coba kalo dia.. huppp…” dalam sekejap bibir Egi sudah membungkam bibir Vino. Vino gelagapan, karena perbuatan Egi begitu tiba-tiba. Vino mendorong kasar wajah Egi dan memukul wajahnya.

“Gue bukan cowok gampangan!!” Vino pergi dan lagi-lagi meninggalkan Egi sendirian dalam kamar itu. Egi menatap punggung Vino yang menjauh dan kemudian berpaling pada foto Vano.

“Maaf, aku sayang sama adek kamu melebihi rasa sayangku ke kamu dulu…!” lalu dia menangis dan tersenyum secara bersamaan. Ada rasa ikhlas sekarang dalam hatinya. Ikhlas merelakan Vano pergi ke tempat yang damai di sisiNya…

TBC


 

Sayap Baru

(Sequel “Sayap-sayap yang Hilang”)

Twoshoot by Gaa-chan

Tiga hari. Waktu yang cukup untuk membuktikan bagaimana rasa sayang dan cinta Egi untuk Vino. Ah, tidak! Bahkan sedetik saja dia sanggup membuktikan rasa cintanya pada Vino. Namun, bagi Vino tiga hari itu juga sebagai pembuktian bahwa dia bukan Vano dan selamanya tak akan pernah jadi Vano. Dia hanya ingin membuka mata Egi bahwa yang di depan matanya ini adalah Vino, bukan Vano kakaknya. Dia masih belum bisa mempercayai ucapan Egi kalau dia menatapnya sebagai Vino.

Akhirnya hari itu pun datang, hari dimana Vino dengan baju, jeans, jaket dan topinya keluar bersama dengan Egi yang memakai baju kemeja keren. Terlihat bagaimana Vino yang ogah-ogahan mengikuti Egi dan duduk di boncengan motornya. Mereka pergi ke taman bermain. Terdengar sangat klise bagi Vino, karena dia masih belum mengerti alasan Egi mengajaknya ke tempat ini. Ini seperti.. kencan cowok dan cewek. Lalu maksudnya apa?

Vino masa bodoh dan mengikuti kemana kaki Egi melangkah. Mereka menaiki beberapa wahana di sana. Egi terus-terusan tersenyum, sementara Vino masa bodoh dan sibuk dengan buku di tangannya.

“Kamu kok dari tadi kayaknya sibuk banget..? Kenapa kamu malah bawa buku ke sini?” Egi bertanya perlahan.

“Loe punya masalah sama ini?” Vino menatap mata Egi dengan tatapan tajam. Egi menggeleng dan tersenyum.

“Nggak apa, selama kamu nyaman dan suka…”

“Terserah!” Vino kembali menatap bukunya.

“Vin, aku beli es cream dulu, ya…!” Egi berpamitan. Namun Vino diam saja dan tak bergeming dari bacaannya. Dia masih serius menatap bukunya dan bersandar. Sudah setengah jam dia dan Egi duduk di bangku ini. Vino sibuk membaca bukunya, sementara Egi hanya duduk di sebelahnya, sesekali menatap wajah Vino sambil tersenyum. Vino menghembuskan nafasnya frustasi. Buku di tangannya memang sudah dia baca untuk yang kesekian kalinya, namun dia selalu saja membacanya. Karena buku ini buku kedokteran pertama yang dia punya, hadiah ulangtahun dari Vano. Bahkan Vano sampai tidak jajan hanya karena menabung untuk membelikan Vino buku ini. Sementara Vino hanya memberinya sebuah gantungan kunci yang tak seberapa kepada Vano saat ulangtahun mereka.

Sejak hari itu buku pemberian Vano selalu menjadi buku wajib yang harus dia bawa kemanapun. Buku itu seolah menghiburnya, menggantikan kehadiran Vano di sisinya walaupun di hatinya dia masih saja merindukan kehadiran Vano yang sebenarnya.

Egi muncul di depannya sambil membawa dua buah es cream. Egi tersenyum dan mengulurkan satu es cream di tangan kanannya untuk Vino. Rasa vanila. Vano sangat menyukai rasa itu.

“Gue nggak suka vanila! Itu kesukaan Vano..” suara Vino bergetar saat mengatakannya. Egi tertegun dan perlahan senyum itu menghilang. “Udah berapa kali gue bilang, jangan pernah perlakukan gue kayak Vano! Gue bukan dia! Walaupun loe masih belum ikhlas lepas dia pergi, tapi seenggaknya jangan paksa gue jadi dia!”

“Ma.. Maaf.. Aku nggak tahu…! Aku beneran nggak tahu…” suara Egi terdengar lirih. Memang benar dia tidak mengetahui itu semua. Dia hanya spontan membeli dua buah es cream vanila, karena rasa dasar dari es cream adalah vanila. Wajah Vino semakin kusut.

“Apa yang loe tahu soal Vano itu kebalikan gue! Vano suka senyum, gue nggak. Vano suka cerita, gue nggak. Vano baik hati, gue nggak. Vano suka vanila, gue nggak. Apa susahnya buat tahu sifat gue kalo loe udah hafal sifat kakak gue?”

“Tapi aku emang beneran nggak tahu…! Aku bisa pesenin kamu yang baru.. gih, kamu pengen rasa apa…” suara Egi masih melembut. Dia tidak marah sama sekali dengan ucapan pedas Vino. Namun, ucapan lembut Egi itu semakin membuatnya muak. Dia jadi merasa dia adalah tokoh antagonis yang saat ini sedang menyiksa tokoh protagonis. Vino meletakkan bukunya di bangku itu dan beranjak. “Gue mau ke toilet!” dan dia mulai melangkahkan kakinya kembali. Sementara itu Egi hanya menatap punggungnya dalam diam.

Dia hanya terdiam, sampai tatapan matanya tertuju pada buku kusam yang dari tadi Vino baca. Buku itu yang dari awal telah membuat Vino tak memerdulikannya. Perlahan rasa iri dan cemburu merasuk ke dalam hatinya. Perasaan itu baru pertama kali muncul hanya karena sebuah buku. Egi berdecih, meraih buku itu dan kemudian melemparkannya ke dalam tong sampah. Selamat tinggal, buku malang! Ah, rasanya Egi sedang tertawa bangga dan puas saat ini!

Vino kembali dari toilet dan segera menghampiri Egi. Namun tiba-tiba padangan matanya mengarah pada bangku itu. Dia menatap Egi gusar.

“Buku yang gue taruh di sini kemana?” dia bertanya cepat.

Egi menggeleng dusta. “Aku tadi juga pergi beli sesuatu..” dia mengelak. Wajah Vino mengeras seketika. Panik langsung melandanya. Walaupun pembawaannya tenang, namun Vino termasuk cowok yang mudah panik.

“Buku gue.. mana buku gue…?” Vino mengguncang tubuh Egi kasar. Egi kaget melihat reaksi Vino. Vino benar-benar panik. Tatapan matanya mengarah ke segala arah. Dia menggigit bibir bawahnya kencang. Tangannya mengepal cemas. Sebelum Egi membuka mulutnya, Vino sudah berlari panik. Dia berlari dan terus berlari sementara Egi dengan rasa bersalahnya masih mengikuti Vino. Dia tidak menyangka kalau Vino yang masa bodoh itu bisa bersikap panik dan berlebihan seperti itu. Egi merasa cemas dengan sikap Vino itu. Perlahan dia mengutuk perbuatannya sendiri. Namun dia masih takut untuk mengatakan yang sebenarnya, takut Vino membencinya.

“Dimana…? Dimana…?” keringat perlahan mulai membasahi kening Vino. Dia telah berkeliling taman bermain selama hampir dua jam lamanya dan berlari ke sana kemari. Egi menatap Vino cemas. Entah kenapa tiba-tiba dadanya terasa sakit melihat Vino seperti itu. Saat kakinya melangkah mendekati Vino, tiba-tiba tubuhnya membeku. Vino terjatuh dan terduduk di aspal, air mata membasahi pipinya, tubuhnya terguncang mencoba menahan isakan dan suara tangisnya. Hati Egi serasa ditusuk dengan ribuan paku beracun saat melihat hal itu.

“Emangnya buku itu penting banget buat kamu, ya Vin…?” suara Egi terdengar lirih. Dia menyentuh pundak Vino dan merengkuhnya ke dalam pelukan.

“Itu buku pemberian Vano. Dia sampe rela nggak jajan buat beliin buku itu… hiks…” tangisan Vino semakin kencang. Egi mengeratkan genggaman tangannya. Dia harus mencari buku itu dan menebus semuanya! Dia sangat menyesal. Sangat mengutuk perbuatan bodohnya itu. Egi berjanji, dia akan segera menemukan buku itu, karena tempat sampah tempat dia membuang buku itu telah diangkut oleh petugas.

***

Hari ini seharusnya jadi hari kedua mereka “berkencan”. Namun entah kenapa Egi malah membatalkan rencana tersebut. Selain itu, melihat wajah sedih dan kusut Vino dia merasa jauh lebih bersalah dan mungkin tak akan sanggup melihatnya seperti itu.

“Gue nggak bakalan ganti hari yang udah loe sia-siain…!” suara Vino semakin dingin. Matanya seolah mencerminkan rasa sakit yang sangat luar biasa.

“Nggak masalah soal itu..! Aku punya hal yang lebih penting dari hari itu.”

“Terserah!” Vino pergi. Dia kembali ke kelasnya dan dudu di bangkunya. Tatapan matanya kosong. Egi semakin sakit melihat pemandangan itu. Dia telah bertekad. Dia harus segera mendapatkan buku itu! Harus!

Akhirnya Egi mulai mencari buku itu, mulai dari ke taman bermain waktu itu, menanyakan kemana sampah itu dibawa, menuju ke tempat pembuangan sampah, mengacak setiap bungkusan sampah, namun hasilnya nihil. Tapi dia tak akan mundur. Besok dia akan mencarinya kembali! Pasti! Atau dia akan kehilangan senyum Vino untuk selamanya!

Sementara itu, Vino tampaknya tak peduli. Karena kekecewaannya semakin bertambah. Semuanya seolah menjauh dari hidupnya. Vano, buku permberian Vano, juga Egi. Mungkin dia mulai merasa bosan dengan Vino. Yah, semua orang memang selalu menjauh darinya. Dia bukan Vano yang selalu dikelilingi oleh orang-orang. Mungkin lebih baik kalau Vino yang pergi. Dia tersenyum miris.

***

Sebuah kotak tergeletak di depan pintu kamar Vino. Vino yang hendak berangkat sekolah perlahan menunduk dan meraih kotak itu. Mungkin perbuatan orang iseng. Dia bermaksud membuang kotak itu, namun tulisan yang tertulis di kotak itu menarik perhatiannya.

“Maaf.. untuk semua yang aku lakukan ke kamu.. Tiga hari yang kamu janjikan itu aku tebus dengan hal bodoh yang pernah kuperbuat ke kamu…”

Tangan Vino membuka kotak itu dengan wajah kaget. Saat tangannya berhasil mengeluarkan sebuah buku dari dalam sana, wajahnya berubah. Sebuah senyuman muncul di bibirnya. Dia memeluk sayang buku itu. Sementara Egi yang sedang menatapnya hanya tersenyum pias. Dia ikut tersenyum. Itulah senyum terindah yang pernah dia lihat dari bibir Vino.

Saat istirahat sekolah Vino mencoba mencari keberadaan Egi di kelasnya, namun sayangnya Egi tidak ada. Menurut keterangan temannya juga Egi selama tiga hari ini sudah bolos kelas. Bahkan katanya selama dua hari Egi bolos sekolah. Vino mengacak rambutnya gusar. Cih, anak itu bodoh sekali! Vino melangkah mencari keberadaan Egi. Jangan-jangan dia sedang ada di kamar asrama, atau mungkin dia sedang balapan liar dan bertengkar lagi! Vino menggaruk tengkuknya. Sejak kapan dia jadi peduli dengan urusan orang lain?

Vino menatap sekeliling mencari keberadaan Egi, hingga matanya tertuju pada halaman belakang gudang. Terlihat kepulan asap tipis keluar dari balik tembok gudang. Mungkin ada anak yang merokok. Dia masa bodoh. Itu bukan urusannya. Namun saat melihat sepatu yang dipakai anak itu, dia berhenti dan berbalik. Benar, itu Egi!

Beberapa putung rokok tersebar di sekitar kakinya. Sepertinya dia sudah dari tadi di sini. Vino berdehem. Egi menoleh dan mendapati Vino sedang berdiri dengan wajah kesal ke arahnya.

“Loe bolos sekolah Cuma buat ngerokok?” wajahnya mengeras seketika. Dia melirik wajah Egi yang sedang menatapnya dengan pandangan sulit diartikan.

“Aku nggak tahu lagi untuk apa aku ada di sana..”

“Loe yang bodoh! Ngapain loe habisin masa sekolah loe buat hal kayak gini?”

“Apa aku harus jadi kutu buku kayak kamu biar bisa nikmatin masa sekolah?”

“Mana gue peduli urusan loe..”

“Tapi aku peduli urusan kamu..” Egi mendekat, namun Vino malah mundur dan menjauh.

“Jangan mendekat! Perokok pasif jauh lebih cepat kena imbas dari asap rokok!” Vino berteriak kencang. Egi menatapnya, dan menjatuhkan rokoknya lalu menginjaknya. Dia mendekat ke arah Vino dan berdiri tepat di depannya.

“Gue.. Gue mau minta maaf…! Buat semua yang udah gue lakuin ke loe..! Juga, makasih udah nyari buku itu…” suara Vino yang gugup terdengar. Egi tersenyum geli melihat reaksi Vino.

“Nggak masalah, aku sayang kamu…”

Vino membelalakkan matanya. Kenapa cowok di depannya ini masih saja mengatakan hal itu? Bukankah dia telah menolaknya?

“Gue belum bisa balikin perasaan loe untuk saat ini. Sorry…”

“Nggak masalah! Aku bakalan nunggu sampe kamu percaya sama gue!”

“Buruan balik ke kelas!” Vino menarik tangan Egi dan memaksanya masuk ke dalam kelasnya. Perlahan senyum Egi terukir sempurna. Dia tersenyum lembut menatap Vino. Vino pergi kembali ke kelasnya.

***

Entah berapa lama Vino mempertahankan egonya untuk tidak mengunjungi makam Vano. Rasa marah dan kecewa yang dulu sempat muncul karena Vano tidak jujur padanya perlahan luntur. Entah mengapa dia merasa kalau seandainya jadi Vano dia akan melakukan hal yang sama. Karena dia sangat menyayangi orang di sekitarnya dan tidak ingin orang lain mengkhawatirkannya.

Sepulang sekolah Vino berencana untuk pergi ke pemakaman Vano. Dia ingin menebus semuanya pada Vano. Meminta maaf pada kakaknya karena dia bersikap seperti anak kecil yang belum bisa bersikap dewasa untuk melepaskan kepergian kakanya itu. Saat sampai di pemakaman, matanya langsung tertuju pada seorang cowok yang memakai seragam sama sepertinya. Itu EGI!

Vino mengendap-endap di belakangnya, ingin mendengar apa yang diucapkan Egi dari tadi di depan makam kakaknya.

“Apa kabar? Aku kangen sama kamu, Van…” Egi berkata lirih. Deg! Jantung Vino berhenti mendadak. “Aku nggak nyangka kalo kamu bakalan pergi secepat ini. Kamu bahkan belum sempat cerita ke aku kalo kamu punya saudara kembar…”

Wajah Vino mengeras. Hatinya perlahan memanas seketika. Dia hanya menatap punggung Egi yang sedang menghadap batu nisan kakaknya.

“Vano… aku sayang adek kamu, aku cinta adek kamu…! Maafin aku kalau kamu marah karena aku ambil adek kesayangan kamu..! Tapi aku bener-bener sayang sama dia. Sama kayak rasa sayang kamu ke Wilga, kan Van..? Karena aku tahu dulu kamu Cuma anggap aku sahabat kamu..” Egi terkikik geli. Vino masih diam di tempatnya.

“Tapi dia nggak sayang sama aku, Van…! Dia masih ngira kalau aku anggap dia itu kamu…! Sumpah, andaikan wajah kalian nggak mirip pun aku tetep bakalan sayang sama dia! Jadi bukan karena dia mirip kamu yang bikin aku sayang sama dia. Awalnya emang aku kangen kamu pas lihat dia. Tapi, dia beda, dia bukan kamu. Aku jatuh cinta sama Vino sebagai Vino. Bukan sebagai Vino kembaran Vano. Tapi…hiks…” Egi menangis! Vino tahu, dia memang bukan cowok yang peka dan sangat cuek. Namun mendengar dan melihat semua kejadian itu dari awal membuat hatinya menghangat seketika. Rasa percaya terhadap Egi perlahan muncul.

Vino melangkah mendekat, meletakkan sebuah karangan bunga di batu nisan Vano, berdoa sejenak, dan kemudian tersenyum, menyapa kakaknya.

“Hai, kak..! Apa kabar, loe? Loe bisa baik-baik aja tanpa gue, kan? Loe dari tadi ditemenin sama makhluk ini? Kalo gue jadi loe, gue usir nih orang..” dia tersenyum geli. Egi menatapnya. Senyum indah itu telah lama dia rindukan. Egi menoleh ke arah makam Vano dan ikut tersenyum.

“Aku bener-bener sayang adek kamu, Van!” ucapan Egi membuat jantung Vino perlahan berdetak kencang.

“Tuh.. tuh orang ini lagi ngelantur…!” Vino menutupi gugupnya dengan bercanda.

“Aku bener-bener sayang adek kamu, Van…”

“Mungkin dia lapar…” lagi-lagi Vino menyembunyikan rasa gugupnya dengan ucapan garing.

“Aku bener-bener sayang adek kamu, Van…”

“Dia nggak punya obrolan lain, kak…” Vino mendengus kesal.

“Aku bener-bener sayang adek kam…” Cup! Dalam sekejap Vino menempelkan bibirnya sendiri di atas bibir Egi dan sukses membuat Egi bungkam seketika.

“Loe bisa diem, kan? Diem atau gue ngelakuin ini lagi!” ancam Vino tegas. Egi masih bengong diantara rasa kagetnya. Namun, kesadaran Egi perlahan muncul. Dia menyeringai dan balas menarik kepala Vino, melakukan hal serupa pada bibir Vino. Tapi kali ini dia sedikit “bermain” dengan bibir Vino itu. Saat tautan bibir mereka terlepas, barulah Egi tersenyum geli menatap wajah Vino yang sedang menatap polos wajah Egi.

“Aku adalah orang yang bakalan nyerang kamu duluan…” Egi terkikik geli. Sementara Vino langsung menjerit gusar dan berdiri. Dia menghentak-hentakkan kakinya karena kesal.

“Gue kapok deket-deket loe lagi!! Jangan deketin gue dalam radius lima ratus meter! Ingat itu!!” Vino berteriak dan menunjuk ujung hidung Egi. Egi hanya tersenyum geli. Geli karena ternyata dibalik sifat cuek dan dinginnya itu Vino adalah cowok yang polos dan menggemaskan.

Vino berbalik dan berlari kencang meninggalkan Egi, sementara Egi tersenyum dan menoleh ke arah makam Vano.

“Aku bakalan jagain dia seumur hidupku! Kamu bisa pegang janjiku!” Egi tersenyum untuk kesekian kalinya, lalu berlari mengejar Vino yang berteriak histeris karena Egi tiba-tiba menggendongnya dari belakang. Yah, lupakanlah dua orang yang sedang bertengkar penuh kemesraan itu! Karena sayap baru telah terbentang saat ini…

END – Next to another sequel

Sayap-Sayap yang Hilang

Wajah itu meringis, sesekali menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sebuah cengiran khas anak nakal terukir di bibir tipis dan merahnya. Sekali lagi cengiran itu berganti dengan sebuah senyuman kaku, sementara seorang guru sedang menatapnya dan menceramahinya panjang lebar bersama barisan anak-anak cowok lainnya. Alisnya menyatu dengan sebuah desahan lega, karena tiba juga saatnya dia harus menerima sebuah hukuman yang rutin dia lakukan setiap pagi.

“Setiap hari kalian terlambat terus! Mau jadi apa kamu kalau masih kecil saja sudah berani datang jam segini ke sekolah..!” guru itu kembali membentak. Teman-teman senasibnya yang lain hanya terdiam sementara dia masih meringis. Lelah dan hafal dengan omelan yang selalu sama setiap harinya itu. Hampir setiap hari dia terlambat datang ke sekolah dan omelan guru BPnya juga selalu sama, hukuman yang sama, poin pelanggaran yang sama dan sekali lagi teman-teman yang sama.

“Vano Arizal Fahmi. Dalam seminggu ini kamu sudah terlambat hampir lima kali! Kamu tahu apa hukuman kalau sampai kamu terlambat lagi besok? Skorsing!” guru BPnya kembali berucap dengan nada tegas. Vano hanya terdiam sambil sesekali melirik gerombolan siswa cowok lainnya. Vano bersekolah di salah satu sekolah khusus anak laki-laki. Selama ini dia tinggal di asrama putra yang ada di dekat sekolahnya, namun sayangnya walaupun sekolah itu dekat dengan asramanya Vano masih sering terlambat akhir-akhir ini. Alasannya hanya satu : Dia harus bekerja sebagai pelayan bar pada malam hari. Tidak ada yang tahu rahasia ini, bahkan pihak sekolah sekalipun. Hanya dua orang yang mengetahui hal ini, yaitu sahabatnya Egi dan juga Wilga, cowok yang akhir-akhir ini bermasalah dengannya.

Wilga adalah cowok kebanggaan sekolahnya, karena pintar, rajin, sering menang dalam olimpiade, berbakat dalam olahraga, cakep, kaya, pula! Sepertinya Tuhan khilaf saat menciptakannya, dan lupa memberikan sedikit cacat pada diri Wilga. Wilga memergokinya dan mengancam akan melaporkannya ke sekolah, namun dengan wajah melas ala Vano, Wilga menuruti keinginannya. Vano harus mencuci bajunya selama Vano masih bekerja di tempat itu. Jadilah Vano kelabakan karena harus mengerjakan beberapa tugas sekaligus. Belum lagi tugas sekolahnya. Memang, dia bukan anak pintar yang selalu jadi juara, tapi nilai-nilainya kini mulai merosot dan itu menjadi ancaman besar baginya. Jangan sampai Ayahnya tahu hal ini! Bisa-bisa dia diusir dari rumah!

Vano menghela nafasnya dan melangkah melewati lorong-lorong kelas. Semua kelas sedang mengadakan kegiatan pembelajaran, dan dia yakin kalau dia pasti tidak akan sempat ikut pelajaran jam pertama dan kedua. Dan tepat! Dia langsung mendapatkan ceramah panjang lebar dari guru mata pelajaran Matematika yang saat itu ada di kelasnya. Belum cukupkah hari ini untuk mendengarkan ceramah dari guru BP? Kenapa harus diceramahi lagi oleh guru kelasnya?

Vano mengernyit kesal. Begitu bel istirahat berbunyi, dia langsung menjatuhkan kepalanya di meja. Sebuah suara mengusik niatnya untuk tertidur sejenak. Semalam dia baru pulang jam tiga pagi, lalu melompati gerbang belakang asramanya dan mengendap-endap ke kamarnya lewat jendela.

“Kamu telat lagi?” Egi menepuk pundaknya. Vano mengangkat wajahnya dan mendengus kesal.

“Iya, dan biarin aku tidur sebentar…! Aku capek!”

“Kamu kenapa masih ngotot kerja jadi pelayan bar segala, sih? Kan Ayah kamu udah tajir, kenapa nggak minta aja?”

Vano menegakkan kepalanya, merentangkan tangannya dan menguap. Matanya kembali mengerjap menahan kantuk. Egi hanya terdiam menatap wajah sahabatnya yang terlihat sedikit pucat. Vano yang dulu dan sekarang memang berubah. Dulu Vano masih sempat tertawa kencang dan menciptakan lelucon konyolnya, namun sekarang hanya wajah penuh masalah yang selalu terlukis di wajahnya.

“Aku kan mau mandiri, Gi…!” Vano menjawab pelan. “Kalo aku lagi butuh duit banyak kan nggak mungkin aku minta gitu aja ke Bokap! Bokap pasti bakalan curiga duitnya buat apaan..”

“Emang duitnya buat apaan? Kamu nggak lagi ikutan kegiatan dan organisasi yang macem-macem, kan?” Egi menyipitkan matanya. Vano menoleh dan menyunggingkan senyum sinis ke arahnya.

“Aku emang gila, tapi aku masih tahu mana yang baik dan yang nggak!”

“Syukurlah kalo gitu! Tapi balik lagi ke pertanyaanku tadi, duit kamu buat apaan? Kenapa kamu mati-matian kerja buat cari duit kayak gitu?”

Vano bungkam, lalu tertawa sumbang. Egi merasa ada yang tidak beres dengan sahabatnya. Akhir-akhir ini wajah sahabatnya itu juga semakin pucat. Pasti Vano sudah terlalu keras bekerja.

“Jangan kebanyakan kerja dan jaga kondisi tubuh kamu…!” Egi menempelkan punggung tangannya di dahi Vano. Memang sedikit panas. “Tuh, kamu demam..”

“Iya, makasih…” sebuah senyuman tulus lolos dari bibir Vano. Untuk pertama kalinya senyuman itu kembali muncul pada bibir Vano. Egi sedikit kaget dan terpaku dengan ekspresi itu. Dalam hidup Egi, ada dua orang yang begitu dia cintai. Ibunya dan Vano. Ayahnya sudah lama meninggal dunia, dan ketika ayahnya meninggal itulah Vano seolah menjadi obat tersendiri bagi Egi. Perasaannya yang awalnya hanya sebatas sahabat, kini berubah menjadi rasa terlarang yang tak mampu lagi dia bendung.

Tapi Egi tak bisa melakukan apapun. Bagaimana mungkin dia mengatakan pada Vano kalau dia punya rasa itu, sementara Vano hanya menganggapnya sahabat?

“Aku maunya kamu berhenti dari sana..! Coba aja cari kerja di tempat lain..!” suara Egi terdengar lirih. Vano diam tak bergeming. Matanya tertutup perlahan, disertai dengan tubuhnya yang limbung. Vano pingsan.

***

Vano terbaring lemah di UKS. Dia tersadar dan menyadari ada Egi sahabatnya sedang menatapnya cemas. Dia bangun dari posisi tidurnya dan berucap pelan.

“Aku lapar…”

Egi menghela nafas lega dan kemudian beranjak keluar dari UKS menuju ke arah kantin. Vano hanya menatap kepergian Egi dengan tatapan getir. Serasa ada ribuan jarum yang menusuk tepat di hatinya saat itu, dan Vano hanya sanggup menangis dalam diam.

Tiba-tiba sepasang kaki masuk ke dalam ruang UKS beserta tumpukan buku di tangannya. Sepasang kaki milik… Wilga. Vano kembali mendongak setelah menghapus air mata di pipinya.

“Ada apa?” Vano balas bertanya pada cowok itu.

“Aku punya tugas merepotkan kali ini!”

“Lalu? Apa urusannya sama aku?”

“Karena kamu objek yang akan merepotkan itu!” Wilga melempar tumpukan buku di tangannya ke arah Vano. Vano mengernyit heran. “Aku disuruh ngajarin kamu! Aish…! Menyebalkan!” Wilga mengacak rambutnya gusar. Vano hanya menatap datar cowok dingin di depannya itu.

“Aku nggak mau! Siapapun guru atau orang yang nyuruh kamu aku nggak peduli! Kamu juga bilang kalo ini bakalan merepotkan, kan?” Vano angkat bahu.

“Nilai dan namaku dipertaruhkan di sini! Akan aku buktikan kalau aku bisa bikin cowok yang suka bikin onar di sekolah mendapatkan nilai bagus! Simple, kan?” suara Wilga masih menyebalkan di telinganya. Vano mendengus.

“Aku nggak punya waktu untuk belajar dalam hidupku!”

“Cih, sok sibuk banget, ya kamu…! Nggak usah mempersulit tugasku!”

“Aku nggak peduli!” Vano melempar buku di depannya dan sukses mengenai wajah cakep Wilga. Dia menyibakkan selimutnya dan bangkit dari kasur UKS. Dia langsung melangkah keluar dari UKS, sampai tangan Wilga menarik tangannya hingga dia terhuyung ke belakang dan jatuh menubruk dada bidang Wilga.

“Kamu turuti atau aku bakalan ngasih tahu pihak sekolah kalau kamu kerja di bar..!”

“Kamu ngancam aku?” nada tak suka muncul saat Vano menjawab ancaman Wilga.

“Terserah bagaimana kamu mengartikannya!”

“Aku udah bilang kan sama kamu! Aku nggak punya waktu untuk acara belajarmu itu! Waktuku cukup berharga daripada hanya dibuat belajar!”

Wajah Wilga mengeras dan dalam sekejap dia membalik tubuh Vano dan membenturkannya di tembok sekolah. Vano meringis kesakitan dan balik menatap wajah Wilga. Jantungnya berdetak kencang. Perlahan cengkeraman tangan Wilga mengendur dan kesempatan itu dipergunakan oleh Vano untuk melarikan diri dari cengkeraman Wilga.

“Urus aja urusanmu sendiri!!” Vano mengumpat, dan begitu Egi muncul dengan kantong berisi makanan di tangannya Vano langsung menariknya pergi dari tempat itu. Mereka pergi ke belakang gudang sekolah, basecamp favoritnya selama ini. Tempat itu agak sepi dan juga sejuk. Vano sering sekali tertidur di sana.

“Heh? Ngapain dia pake acara sok-sok mau ngajarin kamu?” Egi berteriak kaget begitu Vano menceritakan apa yang terjadi di ruang UKS tadi. Vano angkat bahu sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.

“Gue pikir tuh anak udah mulai gila! Kemaren dia ngikutin gue di bar…” Vano mengingat-ingat kembali saat Wilga membuntutinya kemarin malam.

“Serius? Anak kutu buku penjilat guru sok cakep macem dia pergi ke bar? Nggak bisa dipercaya…” Egi hanya geleng-geleng kepala. Vano hanya terdiam. Rasa sakit itu kembali menyerang hatinya. Rasanya seperti hujaman pisau mengenai hatinya. Sakit dalam arti yang sebenarnya. Dia meringis kesakitan dan mencoba menghalangi pandangan Wilga dari rasa sakitnya dengan tersenyum hambar.

“Eh, Gi… ntar pulang sekolah aku nggak bisa pulang dulu..! Aku mau ke suatu tempat..” Vano berkata pelan.

“Kemana?”

“Eh… itu… aku.. mau.. cari kerja yang lain….”

“Beneran? Gimana kalau aku juga ikutan bantu nyarinya?” Egi menawarkan dengan antusias. Namun, lagi-lagi wajah Vano terlihat murung. Dia menggeleng pelan.

“Jangan..! Aku pengen nyari sendiri… please.. aku mohon kamu ngerti…” Vano menatap wajah Egi dengan raut pias. Egi menghembuskan nafasnya kasar dan kemudian mengangguk pasrah.

“Kalau ada apa-apa telepon aku!”

“Sip!” Vano menjentikkan jarinya. Dia tersenyum menatap Egi. Egi balas menatapnya. Padangan mata mereka bertemu, saling bertatapan dalam diam beberapa saat dan entah bagaimana caranya tiba-tiba bibir Egi sudah menempel pada bibir Vano. Sesaat aliran listrik tak kasat mata tercipta diantara mereka. Vano hanya bisa bengong dengan perlakuan Egi, sampai akhirnya Vano sadar ada sepasang mata yang menatap kejadian itu. Sepasang mata milik Wilga! Gotcha! Dia selalu datang di saat yang pas!!

Vano menjauhkan tubuh Egi dan menunduk. Egi yang baru sadar dengan apa yang dilakukannya ikut menunduk dengan wajah memerah sempurna. Dia berkata lirih hingga terdengar seperti berbisik.

“Maaf…! Tapi… aku Cuma pengen kamu tahu, aku… aku cinta sama kamu.. sejak dulu…! Aku tahu ini salah.. tapi…”

“Maafin aku, Gi..” Vano memotong ucapan Egi. “Aku nggak akan bisa balas perasaan kamu sampai kapanpun. Kamu adalah sahabat terbaik yang pernah kupunya…”

Penolakan itu membuat wajah Egi pucat seketika. Dia tahu, perasaannya pada Vano memang salah. Tapi dia tak menyangka kalau penolakan langsung dari Vano terasa begitu sakit. Vano beranjak dari duduknya dan melangkah pergi. Egi hanya menatap kepergian Vano dengan wajah sedih, sementara sebuah tangan telah menarik Vano ke dalam salah satu bilik toilet. Tangan milik Wilga.

“Apa?” ekspresi datar Vano menatap wajah marah Wilga.

“Kamu ada hubungan apa sama cowok itu?!”

“Udah berapa kali aku bilang, itu bukan urusan kamu, Ga…!”

“Tentu aja itu urusanku! Karena… karena… karena… kamu harusnya jadi milikku…” suara Wilga terdengar seperti berbisik. Dia menunduk malu. Vano tergelak geli. Bagaimana bisa pangeran sekolah yang biasanya dingin itu menunduk malu seperti itu. Vano meringis.

“Maaf.. sama seperti yang aku bilang ke Egi.. aku nggak bisa…”

Dua kali penolakan diucapkan Vano hari ini. Wilga menatap wajah Vano lalu memalingkan wajahnya begitu mata Vano menatapnya.

“Maaf…” lalu Wilga pun pergi.

Vano terdiam dan perlahan tubuhnya terduduk, air mata mengalir dari kedua matanya. Dia terisak dan tubuhnya bergetar. Tangannya menggenggam erat sebuah kertas di dalam sakunya. Kertas itulah alasan kenapa dia harus menangis sekarang. Sebuah kertas dari sebuah rumah sakit bertulisan : Positif Kanker Hati.

Itulah alasan kenapa dia harus bekerja, kenapa dia harus menolak kedua orang itu. Jujur, dia juga memiliki perasaan sama terhadap keduanya, tapi sayangnya kertas itu seolah mengingatkannya dan menegurnya untuk menjadi orang yang tahu diri. Hidupnya tak akan lama lagi. Alasan mencari kerja sepulang sekolah hari ini sebenarnya juga hanyalah kamuflase. Dia harus pergi untuk check up ke rumah sakit. Vano terdiam, mengusap air matanya kasar dan pergi dari sekolah. Dia mulai merasakan nyeri di hatinya. Penyakit itu telah berkembang semakin parah dari hari ke hari. Vano mencoba menghentikan taksi yang sedang melaju di jalan raya depan sekolahnya sambil menekan hatinya karena menahan sakit. Tapi sayangnya, sebuah takdir baru terukir sempurna hari ini. Dia dihukum untuk yang terakhir kalinya karena terlambat, Wilga memaksanya untuk belajar, Egi menyatakan perasaan yang selama ini telah diketahui oleh Vano, Wilga yang juga menyatakan cinta, dan juga takdir akhir semuanya… Vano harus terkapar di sini saat ini juga. Tubuhnya roboh di tepi jalan dan perlahan kesadarannya hilang. Dia merasa tubuhnya terbang melayang…

***

Pemakaman Vano dibanjiri oleh banyak orang. Kedua orangtuanya, guru-gurunya, teman-teman, termasuk Egi dan Wilga tak mampu menahan tangis. Kedua cowok itu begitu kacau, mencoba bangun dari kenyataan pahit itu. Namun kenyataan adalah kenyataan. Sepahit apapun kenyataan itu, itu adalah kenyataan.

Sebuah buku tergeletak di bawah bantal kamar asrama Vano. Sebuah buku dengan sampul hitam, berisi catatan pemasukan dan pengeluaran keuangan Vano selama ini. Termasuk biaya check up rumah sakit. Dalam setiap halaman dia menuliskan kalimat, “Vano harus kuat! Harus tetap berusaha untuk hidup!”. Egi dan Wilga hanya terdiam dalam tangis saat membaca tulisan-tulisan itu. Apalagi saat sebuah gambar hasil karya Vano juga ada di situ. Gambar chibi Egi dan Wilga dengan sebuah tulisan manis di bawahnya. “Kalau aku disuruh memilih diantara mereka, aku akan memilih diriku sendiri yang pergi…! Ah, aku sayang mereka!”

Pada halaman terakhir itu terdapat sebuah tulisan yang sepertinya baru ditulis beberapa hari yang lalu :

Kalau aku punya sayap, aku akan terbang tinggi menuju awan…

Kalau aku punya sayap, aku akan terbang tinggi mengelilingi dunia..

Kalau aku punya sayap, akan kukepakkan sayapku dengan bangga dan menjalani hidup ini…

Tapi sayangnya, sayap yang kupunya bukan untuk terbang tinggi menuju awan…

Sayap yang kupunya bukan untuk mengelilingi dunia…

Dan sayap yang kupunya perlahan telah hilang, dan itu artinya aku tak bisa mengepakkannya…

Sayap-sayap yang hilang itu sudah berganti jadi kenangan…

END – Next to another sequel